Fajarnews.co, Kutai Kartanegara, Selasa (07/07/2026) – Komisi IV DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong digelarnya kembali Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk membahas berbagai persoalan yang dikeluhkan pedagang Pasar Tangga Arung Square. Salah satu sorotan utama adalah isi perjanjian kerja sama yang dinilai tidak sesuai dengan hasil kesepakatan dalam RDP sebelumnya.
Anggota Komisi IV DPRD Kukar, Akbar Haka, mengatakan pihaknya menerima audiensi dari perwakilan pedagang usai Salat Jumat. Dalam pertemuan tersebut, para pedagang menyampaikan keberatan terhadap sejumlah klausul dalam perjanjian kerja sama yang akan mereka tandatangani.
Menurut Akbar, pedagang menilai beberapa poin yang sebelumnya telah disepakati bersama Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop) Kukar justru tidak lagi tercantum dalam dokumen terbaru.
“Pedagang meminta agar RDP kembali digelar sehingga klausul-klausul yang mereka anggap memberatkan bisa ditinjau ulang sebelum perjanjian itu ditandatangani,” ujarnya.
Selain persoalan administrasi, kondisi pasar yang masih sepi juga menjadi keluhan utama. Bahkan, kata Akbar, sejumlah pedagang mengaku mendapat tekanan dengan adanya pernyataan bahwa apabila tidak ingin berjualan di Pasar Tangga Arung Square, masih banyak pedagang lain yang siap menggantikan.
Menurutnya, pendekatan seperti itu bukan solusi untuk menyelesaikan persoalan.
“Yang kita inginkan adalah mencari solusi agar Pasar Tangga Arung Square kembali ramai. Jangan sampai ada anggapan kalau tidak mau berjualan silakan keluar, karena persoalan utamanya bukan pada jumlah pedagang, tetapi bagaimana pasar itu bisa hidup,” tegasnya.
Akbar menilai pemerintah perlu mengevaluasi tata kelola pasar secara menyeluruh. Karena itu, Komisi IV akan mendorong RDP lanjutan dengan menghadirkan Disperindagkop, perwakilan pedagang, serta organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar solusi dapat dirumuskan bersama.
Ia juga menyoroti berbagai kegiatan atau event yang selama ini digelar di kawasan Tangga Arung Square. Menurutnya, kegiatan tersebut belum berdampak signifikan terhadap peningkatan transaksi di dalam pasar.
“Orang memang datang saat ada acara, tetapi setelah itu langsung pulang. Mereka tidak masuk ke area pasar untuk berbelanja,” katanya.
Berdasarkan hasil inspeksi lapangan yang telah dilakukan sebanyak dua kali, Akbar mengungkapkan banyak masyarakat mengusulkan agar pasar basah dan pusat perdagangan kebutuhan lainnya berada dalam satu kawasan sehingga tercipta ekosistem perdagangan yang saling mendukung.
Menurutnya, kondisi ekonomi yang sedang lesu ditambah persaingan dengan perdagangan daring atau e-commerce membuat pedagang semakin sulit bertahan. Karena itu, konsep penataan pasar perlu dikaji kembali agar mampu menarik lebih banyak pengunjung.
“Kalau orang datang membeli kebutuhan pokok, mereka juga bisa sekalian membeli pakaian atau kebutuhan lainnya. Ekosistem seperti itu yang diharapkan para pedagang,” jelasnya.
Akbar menegaskan, evaluasi terhadap tata kelola Pasar Tangga Arung Square menjadi langkah penting agar pasar kembali ramai, pedagang dapat bertahan, dan aktivitas ekonomi masyarakat bisa terus tumbuh.
“Yang paling penting sekarang adalah membenahi tata kelola pasar. Kata kuncinya satu, bagaimana Pasar Tangga Arung Square bisa kembali ramai,” pungkasnya.



