Harga Kedelai Meroket, Perajin Tempe di Tenggarong Pilih Kurangi Ukuran daripada Naikkan Harga

redaksi

Fajarnews.co, Kutai Kartanegara – Lonjakan harga kedelai yang terjadi sejak awal 2026 mulai memberikan tekanan bagi pelaku industri rumahan di Kutai Kartanegara. Salah satu dampak yang paling terlihat adalah perubahan ukuran tempe yang beredar di pasaran, seiring upaya produsen mempertahankan harga jual agar tetap terjangkau bagi konsumen.

Kondisi tersebut dialami Ilham Zakariah, pemilik usaha Bandar Tempe Underground di Jalan Sangkulirang, Kelurahan Maluhu, Kecamatan Tenggarong. Menurutnya, kenaikan harga bahan baku membuat para pengusaha tempe harus melakukan penyesuaian agar roda usaha tetap berputar.

Alih-alih menaikkan harga, Ilham memilih mengecilkan ukuran produk yang dipasarkan. Keputusan itu diambil untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mempertahankan pelanggan di tengah persaingan usaha yang cukup ketat.

“Untuk sekarang ukuran tempe agak kami kecilkan untuk menyesuaikan harga bahan baku. Kalau harga dinaikkan, kebanyakan orang tidak mau dan bisa jadi membeli ke tempat lain karena persaingan juga cukup banyak,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Setiap hari, Bandar Tempe Underground mengolah sekitar 50 kilogram kedelai. Volume produksi tersebut dinilai masih sesuai dengan kebutuhan pasar yang selama ini dilayani.

“Kalau saya, pasar yang ada sekarang masih kuat menyerap produksi sekitar 50 kilogram per hari,” katanya.

Di balik sepotong tempe yang sampai ke tangan konsumen, terdapat proses produksi yang memerlukan waktu beberapa hari. Ilham menjelaskan, kedelai terlebih dahulu direndam selama sehari sebelum memasuki tahap penggilingan dan perebusan. Setelah dikemas, tempe kemudian difermentasi hingga siap dipasarkan.

“Kurang lebih empat hari sampai siap jual. Biasanya mulai bisa dipasarkan pada hari keempat,” jelasnya.

Saat ini Bandar Tempe Underground memproduksi tempe dalam tiga varian ukuran, mulai dari kecil, tanggung hingga jumbo. Produk tersebut dipasarkan melalui agen maupun penjualan langsung.

Untuk menjaga ketersediaan bahan baku, Ilham rata-rata membeli 30 karung kedelai setiap bulan. Setiap karung berisi 50 kilogram dan digunakan untuk memenuhi kebutuhan produksi selama sekitar satu bulan.

Namun, biaya pengadaan bahan baku kini semakin besar. Jika pada Januari lalu harga kedelai masih berada di kisaran Rp500 ribu per karung, kini angkanya telah menembus Rp585 ribu.

“Kalau dari bulan Januari itu sekitar Rp500 ribu per karung. Sekarang sudah Rp585 ribu, jadi naik sekitar Rp85 ribu dalam setengah tahun ini,” ungkapnya.

Meski demikian, Ilham bersyukur para pelanggan dan agen sejauh ini masih dapat memahami kondisi yang terjadi. Belum ada komplain berarti terkait perubahan ukuran maupun situasi harga bahan baku yang terus bergerak naik.

Ia berharap tren kenaikan kedelai dapat segera berhenti. Sebab, menurutnya, lonjakan harga paling berat dirasakan oleh pelaku usaha skala kecil, terutama mereka yang baru memulai usaha dan belum memiliki pasar yang kuat.

“Harapannya jangan naik lagi. Kalau naik terus, yang paling terasa itu pengusaha yang baru memulai usaha. Kalau yang sudah punya pelanggan tetap mungkin masih bisa bertahan, tapi yang baru merintis pasti lebih berat,” tuturnya.

Related Post

Tinggalkan komentar