Fajarnews.co, Tim SAR gabungan masih belum menemukan tanda keberadaan lima jurnalis yang hilang kontak saat meliput aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Pemantauan terhadap Pulau Sertung sejauh ini belum menunjukkan hasil berdasarkan pengamatan visual dari jarak aman.
Kepala Kantor SAR Banten Al Amrad mengatakan pencarian telah dilakukan dengan menyisir sejumlah pulau di sekitar Gunung Anak Krakatau. Tim SAR juga mendapat dukungan dari nelayan setempat untuk memperluas pemantauan di kawasan tersebut.
Namun, petugas belum dapat melakukan pencarian langsung di Pulau Sertung. Wilayah tersebut berada dalam radius 3 kilometer dari Gunung Anak Krakatau dan masih masuk zona yang dinyatakan rawan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
“Untuk Pulau Sertung, itu memasuki radius 3 km, sebagaimana kita ketahui bersama data dari PVMBG menyatakan bahwa itu masih daerah rawan, tetapi kami akan tetap berupaya bagaimana kita bisa masuk ke situ dari data BMKG, data BNPB, perkiraan tindakan apa yang harus kita lakukan supaya kita bisa masuk ke situ untuk memastikan,” ujar Amrad dikutip dari Antara.
Basarnas juga mencoba memperluas pencarian melalui pemanfaatan drone. KN SAR Tetuka mengoperasikan drone untuk memantau kawasan Pulau Sangiang. Akan tetapi, kondisi cuaca dan asap tebal dari aktivitas Gunung Anak Krakatau membuat pemantauan udara belum optimal.
“Untuk hari ini, informasi dari rekan-rekan di lapangan yang di sekitar yang menggunakan drone, yaitu KN SAR Tetuka, mencoba hal tersebut dan hasilnya tidak bisa karena kabut asap sangat tebal,” kata Amrad.
Dalam menjalankan operasi pencarian, Basarnas terus berkoordinasi dengan BMKG dan PVMBG. Informasi mengenai cuaca, aktivitas gunung api, serta kondisi di sekitar lokasi diperbarui secara berkala untuk menentukan langkah pencarian yang aman.
“Jadi, rekan-rekan yang dari BMKG termasuk dari PVMBG itu selalu memberikan informasi, mereka melaporkan per jam perkembangannya, apabila ada urgensi, itu akan menyampaikan ke kami,” ujar Amrad.
Lima jurnalis tersebut dilaporkan hilang kontak sejak Senin (7/9/2026) ketika menuju perairan Selat Sunda untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau. Mereka terdiri dari Muhammad Bagus Khoirunas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Donal Husni sebagai fotografer lepas, Yudhistira dari iNews, dan Daus dari Anadolu.
Kelima jurnalis tersebut menggunakan speedboat yang berangkat dari kawasan Carita. Dalam perjalanan itu, mereka bersama tiga orang lainnya, yakni seorang nahkoda, anak buah kapal (ABK), dan pemandu atau guide.
Operasi pencarian masih terus dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi keselamatan tim di lapangan. Area sekitar Gunung Anak Krakatau menjadi perhatian khusus karena aktivitas vulkanik dan kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu.



