Penumpang Bawa Jenazah Tertahan Dua Hari di Soetta Imbas Abu Anak Krakatau

redaksi

Fajarnews.co, Penutupan sementara Bandara Soekarno-Hatta (Soetta) akibat sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau membuat sejumlah penumpang harus menunda perjalanan. Salah satunya keluarga yang tengah membawa jenazah ke Nias untuk dimakamkan secara adat.

Frengki Lase bersama dua anggota keluarganya menjadi salah satu penumpang yang terdampak. Mereka mengawal jenazah pamannya, Iwan Zebua, yang akan dibawa ke Desa Loloanaa, Kecamatan Botomuzoi, Nias.

Jenazah tersebut telah berada di Bandara Soetta selama dua hari karena penerbangan mereka tertunda.

“Kita sebenarnya sedang mengawal almarhum Om, Paman Iwan Zebua, yang mana kita mau kirim ke Nias, mau kita kebumikan ke Nias secara adat, kurang lebih begitu. Nah, memang sebenarnya cukup sedih, karena memang sudah dua hari beliau masih jenazahnya di bandara,” kata Frengki, Selasa (8/9/2026).

Keluarga sempat mencari pilihan lain agar jenazah bisa segera dibawa pulang. Jalur laut menjadi salah satu alternatif yang dipertimbangkan. Namun, informasi mengenai potensi keterlambatan perjalanan membuat keluarga memilih tetap menunggu penerbangan.

“Sebenarnya kita sudah cari tahu dan tanya-tanya apakah ada opsi lain, namun dari info yang kami dapat, kalau memang jalur laut pun kemungkinan ada keterlambatan maupun keterhambatan juga dalam perjalanan menuju Pulau Nias,” ujarnya.

“Makanya kita mau tidak mau harus menunggu informasi dari bandara melalui pesawat saja, kurang lebih begitu,” sambung Frengki.

Penundaan perjalanan juga membuat keluarga harus mengeluarkan biaya tambahan di luar rencana awal. Frengki menyebut pengeluaran tambahan selama menunggu keberangkatan mencapai sekitar Rp1,5 juta.

“Dari pihak penerbangan belum ada, tetapi dari kita pribadi memang ada pengeluaran tambahan yang sebenarnya tidak sesuai dengan rencana kita, yang mana ada kurang lebih satu setengah [juta] pengeluaran tambahan yang tidak sesuai dengan rencana yang sudah kita rencanakan sebelumnya,” katanya.

Meski Bandara Soetta telah kembali dibuka, keluarga tersebut masih harus menunggu kepastian jadwal keberangkatan. Mereka sebelumnya mendapat informasi penerbangan pada pukul 06.55 WIB, tetapi jadwal kembali mengalami penundaan.

“Belum ada kepastian, karena kita juga cukup masih ragu. Dari awal kemarin kita diinformasikan bahwa kita akan terbang sekitar pukul 06.55, namun berdasarkan papan informasi terbaru bahwa kami akan delay lagi sekitar kurang lebih dua sampai tiga jam,” kata Frengki.

Keluarga berharap penerbangan segera terlaksana agar jenazah dapat dibawa ke Nias dan dimakamkan sesuai adat keluarga.

“Kami berharap semoga nanti kami dapat berangkat dan terbang sekitar pukul 09.00 sesuai dengan jadwal yang ditata kembali,” tuturnya.

Bandara Soetta sebelumnya menghentikan operasional sementara setelah terdampak abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Pemerintah kemudian membuka kembali sejumlah bandara mulai Selasa (8/9) dini hari.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan Bandara Soekarno-Hatta, Bandara Halim Perdanakusuma, dan Bandara Husein Sastranegara kembali aktif mulai pukul 00.01 WIB. Bandara Budiarto Curug dan Bandara Pondok Cabe menyusul dibuka pada pukul 02.25 WIB.

“Per tanggal 8 September pukul 00.01 WIB, Bandara Soekarno-Hatta Banten, Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta dan Bandara Husein Sastranegara Bandung dinyatakan aktif kembali. Menyusul Bandara Budiarto Curug Banten dan Bandara Pondok Cabe Banten juga kembali dibuka pada pukul 02.25 WIB,” ujar Dudy.

Namun, sejumlah bandara lainnya masih menghentikan operasional karena terdampak abu vulkanik Anak Krakatau. Tiga di antaranya adalah Bandara Radin Inten II, Bandara M Taufik Kiemas, dan Bandara Salakanagara.

Kasus tertahannya jenazah di Bandara Soetta menjadi salah satu dampak langsung gangguan penerbangan akibat aktivitas vulkanik. Bagi keluarga, kepastian penerbangan menjadi penting agar proses pemulangan dan pemakaman jenazah di Nias dapat segera dilakukan.

Related Post

Tinggalkan komentar