Konflik Antarsuku di Wamena Memanas, Belasan Orang Tewas dan Ratusan Warga Mengungsi

redaksi

Fajarnews.co, Wamena – Bentrokan antarsuku di wilayah Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, terus menjadi perhatian aparat dan pemerintah pusat setelah menewaskan sedikitnya 13 orang. Selain korban jiwa, puluhan warga dilaporkan mengalami luka-luka dan ratusan lainnya terpaksa meninggalkan rumah demi menghindari eskalasi konflik.

Data sementara mencatat sekitar 789 warga mengungsi akibat situasi keamanan yang belum sepenuhnya stabil. Di antara para pengungsi terdapat ratusan anak-anak dan lanjut usia yang kini membutuhkan perlindungan dan bantuan logistik.

Polda Papua menyebut akar konflik bermula dari persoalan adat yang belum terselesaikan sejak insiden kecelakaan pada 2024 lalu yang melibatkan seorang anggota DPRD Lanny Jaya. Sengketa pembayaran denda adat disebut menjadi pemicu ketegangan antara dua kelompok masyarakat hingga berkembang menjadi aksi saling serang.

Menurut kepolisian, konflik yang awalnya berskala kecil perlahan meluas dan sulit dikendalikan karena melibatkan solidaritas antarkelompok suku.

Pemerintah pusat pun mulai mengambil langkah mediasi. Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk turun langsung ke Wamena untuk menghadiri dialog perdamaian bersama pemerintah daerah, aparat keamanan, dan tokoh masyarakat.

Dalam pertemuan tersebut, pemerintah daerah meminta seluruh pihak menahan diri serta mengutamakan penyelesaian secara adat guna mencegah jatuhnya korban tambahan. Warga yang berasal dari daerah konflik juga diimbau kembali ke wilayah masing-masing agar ketegangan tidak meluas ke pusat Kota Wamena.

Aparat gabungan TNI dan Polri saat ini masih disiagakan di sejumlah titik strategis untuk menjaga stabilitas keamanan. Patroli rutin terus dilakukan menyusul kekhawatiran terjadinya bentrokan susulan.

Meski begitu, kepolisian menyatakan aktivitas masyarakat di beberapa wilayah mulai berangsur normal. Sejumlah sekolah, kantor pemerintahan, dan tempat ibadah dilaporkan kembali beroperasi dengan pengamanan ketat.

Di tengah situasi tersebut, Gubernur Papua Pegunungan John Tabo juga melaporkan dugaan pencemaran nama baik ke pihak kepolisian. Laporan itu berkaitan dengan beredarnya rekaman suara di media sosial yang menuding dirinya memperkeruh konflik antarsuku di Wamena.

John menegaskan penyebaran tuduhan tanpa dasar dapat memperburuk situasi keamanan dan meminta aparat menindaklanjuti kasus tersebut sesuai hukum yang berlaku.

Pemerintah daerah bersama aparat keamanan kini terus mendorong pendekatan dialog dan penyelesaian adat agar konflik segera mereda dan para pengungsi dapat kembali ke rumah mereka.

Related Post

Tinggalkan komentar