Fajarnews.co, Kutai Kartanegara – Memasuki periode kemarau yang berpotensi memicu cuaca ekstrem, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperkuat langkah antisipasi terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kekeringan, hingga keterbatasan pasokan air bersih di sejumlah wilayah.
Kepala Seksi Pencegahan pada Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kukar, Mohd Farid, mengatakan pihaknya secara rutin memantau perkembangan cuaca berdasarkan data resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Informasi tersebut menjadi dasar dalam menyusun strategi mitigasi serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Menurut Farid, beberapa kecamatan seperti Marangkayu, Muara Badak, Sangasanga, dan Loa Kulu termasuk kawasan yang memerlukan perhatian khusus karena memiliki tingkat kerawanan lebih tinggi terhadap dampak musim kemarau, terutama kebakaran lahan dan kekeringan.
Ia mengungkapkan, sepanjang Januari hingga Juli 2026 telah terjadi 12 kasus kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kukar. Jumlah tersebut menjadi sinyal bagi BPBD untuk meningkatkan kesiapan personel dan koordinasi di lapangan seiring meningkatnya risiko kebakaran pada musim kemarau.
“Prioritas kami adalah melakukan upaya pencegahan sekaligus memberikan respons cepat terhadap setiap laporan kejadian, khususnya di wilayah seperti Muara Badak dan Sangasanga yang beberapa kali mengalami kebakaran hutan dan lahan,” ujar Farid, Rabu (5/8/2026).
Selain mengantisipasi karhutla, BPBD juga menyiapkan langkah penanganan apabila musim kemarau berkepanjangan menyebabkan masyarakat mengalami kesulitan memperoleh air bersih. Penyaluran bantuan air bersih akan kembali dilakukan sebagaimana penanganan yang pernah diterapkan pada tahun-tahun sebelumnya apabila kondisi tersebut benar-benar terjadi.
Farid menjelaskan, koordinasi dengan pemerintah kecamatan, desa, dan kelurahan terus diperkuat agar setiap potensi bencana dapat ditangani lebih cepat. Di sisi lain, BPBD aktif menyebarluaskan informasi mengenai kondisi cuaca dan peringatan dini melalui jaringan komunikasi kebencanaan serta berbagai materi infografis yang dapat diteruskan kepada masyarakat.
Ia berharap media massa, termasuk LPPL Radio Pemerintah Kabupaten (RPK), dapat menjadi mitra dalam menyampaikan edukasi dan informasi kebencanaan sehingga masyarakat semakin memahami langkah-langkah pencegahan yang perlu dilakukan.
Farid juga menyoroti bahwa sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu oleh aktivitas manusia. Menurutnya, kasus kebakaran akibat faktor alam hanya terjadi dalam jumlah kecil dibandingkan kebakaran yang berasal dari pembakaran lahan atau kelalaian manusia.
“Karena itu kami terus mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Hampir seluruh kejadian yang kami tangani dipicu oleh ulah manusia,” tegasnya.
BPBD Kukar mengajak seluruh masyarakat untuk lebih waspada selama musim kemarau berlangsung dengan menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api atau kondisi yang berpotensi berkembang menjadi bencana.



