KKN 38 Unikarta Kembangkan Bank Sampah Rempanga, Sampah Organik Diolah Jadi Pupuk Cair

redaksi

Fajarnews.co, Kutai Kartanegara – Kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) 38 Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) mendorong pengembangan pengelolaan sampah di Desa Rempanga melalui pelatihan pembuatan dan pengolahan komposter. Kegiatan yang digelar pada Sabtu (01/08/2026) di Desa Rempanga
Tempatnya Gedung PKK sekaligus Bank Sampah Srikandi Berdikari, itu menjadi langkah awal memperluas fungsi Bank Sampah desa yang sebelumnya hanya berfokus pada pengelolaan sampah anorganik.

Pelatihan tersebut melibatkan Pemerintah Desa Rempanga, Tim Penggerak PKK, Kelompok Wanita Tani (KWT), pengelola Bank Sampah, serta masyarakat setempat. Hadir sebagai narasumber, Rosid, S.P., yang memberikan materi mengenai teknik pengolahan sampah organik rumah tangga menjadi kompos dan Pupuk Organik Cair (POC).

Dalam kegiatan itu, peserta tidak hanya mendapatkan teori mengenai pemilahan sampah, tetapi juga praktik langsung pembuatan komposter. Melalui metode tersebut, limbah organik rumah tangga seperti sisa makanan dan sampah dapur dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi sektor pertanian maupun pekarangan warga.

Ketua Kelompok KKN 38 Desa Rempanga, Akhmad Turhan Badri, mengatakan program tersebut merupakan upaya membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih berkelanjutan di tingkat masyarakat. Menurutnya, pengembangan Bank Sampah hingga mencakup sampah organik menjadi salah satu langkah nyata dalam mendukung konsep zero waste.

“Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah tidak semuanya harus berakhir di tempat pembuangan akhir. Sampah organik dapat diolah menjadi Pupuk Organik Cair melalui komposter, sehingga memiliki nilai manfaat bagi masyarakat sekaligus membantu mengurangi volume sampah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berdasarkan data timbulan sampah di Kabupaten Kutai Kartanegara, rata-rata setiap penduduk menghasilkan sekitar 0,49 kilogram sampah per hari. Dengan jumlah penduduk yang terus bertambah, diperlukan partisipasi masyarakat untuk mengurangi beban sampah melalui pengelolaan sejak dari rumah.

“Harapan kami, program ini tidak berhenti ketika KKN selesai. Masyarakat dapat melanjutkan pengolahan sampah organik secara mandiri sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang, baik bagi lingkungan maupun perekonomian warga,” katanya.

Kegiatan tersebut juga mengusung semangat pelestarian lingkungan yang diwujudkan melalui gestur huruf “L” sebagai simbol Lestari. Gestur itu menjadi identitas gerakan yang mengajak masyarakat membiasakan memilah, memilih, dan mengolah sampah sejak dari rumah sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian lingkungan.

Program ini sejalan dengan tema KKN 38 Universitas Kutai Kartanegara, yakni “Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Potensi Lokal untuk Mewujudkan Desa Mandiri dan Keberlanjutan.” Melalui kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat, diharapkan pengelolaan sampah di Desa Rempanga dapat terus berkembang menjadi gerakan yang berkelanjutan.

Related Post

Tinggalkan komentar