Fajarnews.co,Kutai Kartanegara, Rabu (22/04/2026) – Gangguan distribusi air bersih yang sempat dikeluhkan masyarakat di wilayah Bukit Biru dan sekitarnya dipastikan bukan disebabkan oleh berhentinya aliran secara total, melainkan akibat menurunnya kapasitas produksi air.
Hal tersebut disampaikan Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Kutai Kartanegara, Suparno, yang menyebut gangguan dipicu oleh ketidakstabilan tegangan listrik dari PLN.
“Bukan mati total, hanya kapasitasnya yang menurun. Air tetap mengalir, tapi tidak maksimal,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi tersebut berdampak langsung pada kinerja pompa di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Mekarsari yang menyuplai wilayah Bukit Biru dan sekitarnya.
Ia menjelaskan, sistem pengolahan dan distribusi air sangat bergantung pada pasokan listrik yang stabil. Ketika tegangan listrik berada di bawah standar, pompa tidak dapat bekerja secara optimal.
Dalam kondisi normal, PDAM mengoperasikan dua pompa untuk menjaga suplai air tetap lancar. Namun saat terjadi penurunan voltase, jumlah pompa yang dapat dijalankan terpaksa dikurangi.
“Kalau tegangannya tidak sesuai, pompa tidak bisa bekerja maksimal. Bahkan kalau dipaksakan, berisiko merusak peralatan,” jelasnya.
Gangguan ini tidak hanya berdampak di satu titik, melainkan meluas ke beberapa wilayah lain yang berada dalam satu jalur distribusi, seperti Jahab dan kawasan sekitarnya.
Selain itu, kondisi semakin terasa pada jam-jam beban puncak, ketika konsumsi listrik meningkat. Pada waktu tersebut, aliran air ke pelanggan bisa melemah bahkan tidak mengalir di beberapa titik.
“Biasanya di jam puncak itu yang paling terasa. Karena penggunaan listrik tinggi, tegangan ikut turun,” tambahnya.
Setelah dilakukan normalisasi jaringan oleh pihak PLN, kondisi tegangan listrik kini telah kembali stabil. Dampaknya, operasional pompa dan distribusi air juga berangsur normal.
Suparno memastikan saat ini pelayanan telah kembali berjalan sebagaimana mestinya dan masyarakat sudah dapat menikmati aliran air dengan normal.



