Pawai Ogoh-ogoh Warnai Rangkaian Nyepi di Kukar, Umat Hindu Jaga Toleransi di Bulan Ramadan

redaksi

Fajarnews.co,Kutai Kartanegara – Umat Hindu di Kutai Kartanegara kembali menggelar pawai ogoh-ogoh sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi, Rabu malam (19/3/2026). Kegiatan tahunan ini tak hanya menjadi tradisi keagamaan, tetapi juga diharapkan dapat menjadi hiburan bagi masyarakat dengan tetap menjunjung tinggi nilai toleransi di bulan Ramadan.

Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kutai Kartanegara, I Nyoman Surada, mengatakan pawai ogoh-ogoh merupakan rangkaian lanjutan setelah pelaksanaan Melasti dan Tawur Kesanga.

“Acara kegiatan ini merupakan rangkaian kegiatan Hari Raya Nyepi. Kemarin sudah melaksanakan Melasti, kemudian hari ini rangkaian Tawur Kesanga. Pagi tadi sudah dilaksanakan Tawur Kesanga, dan malam ini adalah pawai ogoh-ogoh, yang merupakan tradisi bagi umat kami,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pawai dimulai dari Wantilan Pura Prayogan Agung Kutai, kemudian melintasi kawasan Gunung Sedayu di Jalan Sangkulirang, Stadion Rondong Demang, Selendreng, Jalan Panjaitan, Loa Ipuh, dan kembali berakhir di pura. Jarak tempuh pawai diperkirakan sekitar 3 hingga 5 kilometer.

Menurut Nyoman, peserta yang terlibat dalam kegiatan tersebut sekitar 100 orang dari kalangan umat Hindu. Namun jumlah itu bisa bertambah menjadi 150 hingga 200 orang dengan dukungan masyarakat sekitar yang ikut membantu.

“Kurang lebih umat kami sekitar seratus orang. Namun jika ditambah masyarakat sekitar yang ikut membantu, bisa mencapai sekitar 150 sampai 200 orang,” katanya.

Lebih lanjut, ia menerangkan ogoh-ogoh memiliki makna simbolis yang erat kaitannya dengan pelaksanaan Tawur Kesanga, yakni sebagai upaya menyeimbangkan alam sekaligus mengusir roh-roh jahat.

“Maknanya berangkat dari Tawur Kesanga, yaitu untuk menyeimbangkan alam. Sementara ogoh-ogoh ini melambangkan upaya untuk mengusir roh-roh jahat di alam,” jelasnya.

Adapun bentuk ogoh-ogoh yang diarak tahun ini menggambarkan sifat keserakahan dan ketamakan manusia. Wujudnya dibuat menyeramkan dan dililit jaring sebagai pengingat akan pentingnya menjaga keseimbangan alam dan menjalani hidup secara secukupnya.

“Ogoh-ogoh ini menggambarkan sifat keserakahan dan ketamakan manusia, yang mencari sesuatu dengan cara yang tidak baik dan tidak menjaga keseimbangan alam. Karena itu bentuknya dibuat menyeramkan dan dililit dengan jaring,” ungkapnya.

Nyoman menegaskan kegiatan pawai ogoh-ogoh rutin dilaksanakan setiap tahun. Selain sebagai tradisi keagamaan, kegiatan itu juga menjadi bentuk hiburan bagi masyarakat yang memang berharap pawai ogoh-ogoh terus digelar.

Ia juga menyampaikan bahwa pelaksanaan kegiatan di bulan Ramadan dilakukan dengan tetap memperhatikan sikap saling menghormati antarumat beragama.

“Kami sangat menghargai bulan Ramadan. Oleh karena itu, kegiatan ini dilaksanakan dengan tetap menjaga toleransi. Kami berharap masyarakat juga dapat memberikan dukungan dan partisipasi. Kegiatan ini murni tradisi dan bertujuan untuk menghibur masyarakat, tidak ada tujuan lain,” tuturnya.

Related Post

Tinggalkan komentar