Fajarnews.co,Kutai Kartanegara, Kamis (12/03/2026) – Masyarakat Kutai di Kalimantan Timur memiliki sejumlah tradisi yang terus dijaga dan diwariskan turun-temurun selama bulan suci Ramadan. Salah satu tradisi yang masih dilestarikan hingga kini adalah Pelikuran, yakni kebiasaan menyalakan lampu di depan rumah yang dimulai pada malam ke-21 Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Malam 21 Ramadan sendiri dianggap sebagai waktu yang istimewa oleh masyarakat Kutai. Selain menandai dimulainya sepuluh malam terakhir Ramadan, malam tersebut juga dikaitkan dengan peringatan turunnya Al-Qur’an serta menjadi momentum untuk meningkatkan ibadah dan memperkuat nilai-nilai spiritual.
Di kalangan Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, tradisi ini dilakukan dengan menyalakan lilin wangi yang diletakkan di depan pintu rumah. Sementara itu, masyarakat Kutai secara umum menyalakan lampu di halaman atau teras rumah sebagai simbol penerangan yang dimulai sejak malam ke-21 Ramadan hingga malam takbiran.
Budayawan Kutai Kartanegara, Awang M. Rifani, menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki makna simbolis yang kuat dalam kehidupan masyarakat Kutai. Lampu yang dinyalakan dipercaya sebagai penerang bagi arwah keluarga yang telah meninggal dunia, sehingga secara simbolik mereka dapat “kembali” ke rumah. Tradisi ini menjadi bentuk penghormatan serta ungkapan cinta kepada para leluhur.
Selain itu, masyarakat juga meyakini bahwa cahaya lampu tersebut menjadi simbol penyambutan datangnya malam Lailatul Qadar, malam yang diyakini penuh keberkahan bagi umat Islam. Karena itu, tradisi Pelikuran tidak hanya dimaknai sebagai kebiasaan budaya, tetapi juga bagian dari penguatan nilai spiritual selama Ramadan.
Pada periode ini pula, masyarakat Kutai biasanya menggelar berbagai kegiatan keagamaan seperti pengajian dan tahlilan untuk mendoakan arwah keluarga. Kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat kebersamaan serta memperkuat nilai gotong royong yang telah lama hidup dalam budaya masyarakat Kutai.
Tradisi Pelikuran menjadi salah satu warisan budaya yang menunjukkan perpaduan antara nilai keagamaan dan kearifan lokal masyarakat Kutai. Hingga kini, tradisi tersebut masih terus dijaga sebagai bagian dari identitas budaya yang berakar dari sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara.



