Rupiah Tertekan Dekati Rp18 Ribu, BI Ungkap Sejumlah Faktor Pemicu

redaksi

Fajarnews.co, Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (24/9/2026), rupiah tercatat menyentuh Rp17.903 per dolar AS, mendekati level Rp18 ribu.

Dilansir dari CNN Indonesia, Bank Indonesia (BI) menjelaskan tekanan terhadap rupiah tidak berdiri sendiri. Kondisi pasar keuangan global, kebijakan moneter AS, hingga kebutuhan dolar di dalam negeri turut memengaruhi pergerakan mata uang nasional.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, mengatakan salah satu faktor utama berasal dari meningkatnya ekspektasi terhadap kemungkinan pengetatan kebijakan moneter AS.

Situasi tersebut berlangsung di tengah kekhawatiran pasar terhadap inflasi global dan prospek fiskal. Dampaknya terlihat pada kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury 10 tahun, yang disebut mencapai 5,11 persen, level tertinggi sejak 2007.

Tekanan juga diperkuat oleh ketidakpastian konflik di Timur Tengah. Kekhawatiran mengenai terganggunya pasokan minyak dunia mendorong harga minyak mentah Brent kembali berada di atas US$100 per barel.

Dari dalam negeri, kebutuhan valuta asing juga meningkat menjelang berakhirnya kuartal III 2026. Permintaan dolar dari para importir menjadi salah satu faktor yang ikut memberikan tekanan terhadap rupiah.

Selain itu, pasar negara berkembang menghadapi arus keluar modal portofolio atau capital outflow, yang turut memengaruhi sentimen investor terhadap mata uang emerging markets.

Meski rupiah berada dalam tekanan, BI menyatakan tetap melakukan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan memastikan pergerakannya tetap sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi.

Sejumlah instrumen digunakan, antara lain transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

BI juga mencatat secara kuartal berjalan atau quarter-to-date (qtd), rupiah masih menguat sekitar 0,46 persen dan pergerakannya secara umum masih mengikuti tren mata uang di kawasan.

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Agustus 2026 tercatat meningkat menjadi US$146,5 miliar.

Dengan berbagai instrumen stabilisasi tersebut, BI menyatakan akan terus memantau perkembangan pasar global dan domestik guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

Related Post

Tinggalkan komentar