Fajarnews.co, Kutai Kartanegara – Menyambut Tahun Baru Islam 1 Muharam, Pemerintah Desa Kota Bangun I bersama masyarakat menggelar rangkaian kegiatan yang diawali dengan aksi bersih desa dan diakhiri dengan doa bersama pada malam hari.
Kepala Desa Kota Bangun I, Nur Rohim, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kebersamaan masyarakat dalam menjaga lingkungan sekaligus memperkuat nilai-nilai sosial dan keagamaan demi kemajuan desa yang lebih baik.
“Rangkaian kegiatan diisi dengan gotong royong membersihkan fasilitas umum, lingkungan desa, hingga area pemakaman. Setelah itu dilanjutkan dengan doa bersama pada malam harinya sebagai ungkapan rasa syukur dan harapan agar desa kami semakin maju dan masyarakat selalu diberikan keberkahan,” ujarnya, Senin malam (15/062026)
Kegiatan tersebut dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga lembaga-lembaga desa. Menurut Nur Rohim, kehadiran seluruh unsur masyarakat menjadi simbol kuatnya persatuan dan kecintaan terhadap lingkungan serta tanah air.
Ia menjelaskan, kegiatan tersebut telah menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan secara swadaya oleh masyarakat. Semangat gotong royong yang ditunjukkan warga menjadi bukti bahwa tradisi kebersamaan masih terjaga dengan baik di tengah perkembangan zaman.
Puncak peringatan Tahun Baru Islam dilaksanakan di Tugu Panglima Tohid yang berada di kawasan Simpang Lima Kota Bangun I. Lokasi tersebut memiliki nilai historis dan menjadi salah satu ikon kebanggaan masyarakat setempat.
“Tugu Panglima Tohid merupakan salah satu simbol yang sangat berarti bagi masyarakat Kota Bangun I. Tradisi berkumpul dan menggelar kegiatan di lokasi ini sudah diwariskan oleh para leluhur,” kata Nur Rohim.
Ia menambahkan, sejak dirinya menjabat sebagai kepala desa, masyarakat memiliki keinginan kuat untuk kembali menghidupkan tradisi yang sempat tidak terlaksana secara maksimal. Antusiasme warga yang terlibat dalam seluruh rangkaian kegiatan menjadi kebanggaan tersendiri bagi pemerintah desa.
“Saya bangga melihat semangat masyarakat. Tradisi ini bukan hanya tentang menyambut Tahun Baru Islam, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi, menjaga warisan budaya leluhur, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap desa,” tutupnya.



