Jembatan Kayu Berusia 54 Tahun di Sungai Payang Jadi Sorotan, HMI Minta Pemkab Kukar Segera Lakukan Perbaikan

redaksi

Fajarnews.co, Kutai Kartanegara, Senin (15/06/2026) – Keberadaan jembatan penghubung di Desa Sungai Payang, Kecamatan Loa Kulu, kembali menjadi perhatian. Infrastruktur yang telah digunakan selama puluhan tahun itu dinilai berada dalam kondisi memprihatinkan dan berpotensi membahayakan keselamatan masyarakat.

Sorotan tersebut disampaikan Bendahara Umum Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Hukum, Regy Elfadianur. Ia menilai pemerintah daerah perlu segera mengambil langkah konkret mengingat jembatan tersebut merupakan akses vital bagi aktivitas warga sehari-hari.

Menurut Regy, Desa Sungai Payang memiliki peran penting dalam pembangunan daerah. Selain berada di wilayah Daerah Pemilihan (Dapil) 5 Kutai Kartanegara, kawasan tersebut juga dikenal memiliki kontribusi terhadap pendapatan daerah.

Namun demikian, ia menilai masih terdapat sejumlah persoalan mendasar yang belum mendapatkan perhatian maksimal, terutama terkait infrastruktur penunjang mobilitas masyarakat.

“Desa Sungai Payang dikenal sebagai salah satu wilayah yang turut berkontribusi terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, hingga saat ini masih ada infrastruktur penting yang kondisinya memprihatinkan dan membutuhkan perhatian pemerintah,” ujarnya.

Regy mengungkapkan, jembatan utama yang menjadi penghubung antarwilayah di desa tersebut masih menggunakan konstruksi kayu dengan usia mencapai sekitar 54 tahun. Seiring bertambahnya usia, sejumlah bagian jembatan disebut mengalami kerusakan dan mulai mengkhawatirkan.

“Setiap kali dilintasi, jembatan bergoyang. Beberapa papan juga sudah patah. Kondisi ini tentu membahayakan pengguna karena jika terjatuh, langsung ke sungai,” katanya.

Jembatan itu tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi warga, tetapi juga menjadi akses utama bagi kegiatan ekonomi, pendidikan, hingga distribusi kebutuhan masyarakat. Karena itu, keberadaannya dinilai sangat menentukan kelancaran aktivitas penduduk setempat.

Ia menambahkan, beberapa kali perbaikan memang pernah dilakukan. Namun upaya tersebut berasal dari inisiatif masyarakat yang bergotong royong memperbaiki bagian-bagian yang rusak secara mandiri.

“Warga bergotong royong memperbaiki bagian yang rusak demi menjaga keselamatan pengguna jalan. Namun perbaikan swadaya tentu tidak bisa menjadi solusi jangka panjang,” ujarnya.

Kondisi kayu yang mulai lapuk dan rapuh membuat kekhawatiran warga semakin meningkat. Risiko kecelakaan disebut semakin besar, terutama saat jembatan dilalui kendaraan atau ketika hujan yang membuat permukaan jembatan menjadi licin.

Sebagai akses utama yang menghubungkan Sungai Payang dengan wilayah sekitar, masyarakat berharap pemerintah segera merealisasikan pembangunan atau rehabilitasi secara menyeluruh agar jembatan tersebut dapat digunakan dengan aman dalam jangka panjang.

Regy mengatakan harapan masyarakat tidak muluk-muluk. Warga hanya menginginkan adanya perhatian nyata dari pemerintah daerah terhadap kebutuhan dasar yang selama ini menjadi penunjang kehidupan mereka.

“Harapan warga sederhana, yakni adanya langkah nyata dari pemerintah daerah untuk membangun jembatan yang lebih aman dan representatif. Infrastruktur ini sangat penting karena menjadi urat nadi aktivitas masyarakat setiap hari,” pungkasnya.

Related Post

Tinggalkan komentar