Fajarnews.co, Magelang – Kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Candi Borobudur bersama Ibu Negara Brigitte Macron menjadi pembahasan publik setelah mereka menyentuh patung Buddha di dalam salah satu stupa. Tindakan tersebut disebut sebagai praktik mitos Kunto Bimo yang diyakini membawa keberuntungan. Namun, aksi ini menuai sorotan tajam dari masyarakat dan pemerhati budaya.
Menurut akun Instagram @konservasiborobudur, Kunto Bimo merupakan mitos yang beredar di masyarakat sekitar Borobudur dan dipercaya sejak lama. Mitos ini menyebutkan bahwa menyentuh bagian tertentu dari arca Buddha bisa mengabulkan keinginan. “Seseorang yang dapat menyentuh bagian tertentu dari tubuh arca Buddha… akan mendapat keberuntungan hingga dikabulkan keinginannya,” tulis akun tersebut.
Biasanya, mitos Kunto Bimo dilakukan pada stupa berlubang berbentuk belah ketupat di sisi timur tingkat ketujuh candi. Arca tersebut konon harus disentuh pada bagian jari manis atau tumit, tergantung gender. Meskipun tidak ada dasar agama Buddha yang mendukungnya, tradisi ini bertahan secara turun-temurun.
Sayangnya, tindakan menyentuh arca itu kini dilarang karena dianggap merusak cagar budaya dan melukai simbol religius umat Buddha. “Kegiatan ini menjadi mitos karena tidak ada asal-usul atau keterkaitan dengan ajaran agama Buddha,” lanjut penjelasan akun konservasi.
Dampaknya tak hanya soal keyakinan, namun juga pada struktur bangunan bersejarah itu sendiri. Karena sering diinjak, permukaan stupa berisiko aus dan hilang, mengingat usianya yang mencapai 1.200 tahun. Oleh karena itu, larangan tegas diberlakukan dalam beberapa tahun terakhir.
Ironisnya, tokoh sekaliber Macron justru melakukan hal yang dilarang itu secara terbuka. Banyak pihak mengecam tindakan ini karena publik umum dilarang menyentuh arca, tetapi pemimpin dunia malah melanggarnya. Kritik semakin tajam ketika foto aksi Macron dibagikan akun resmi @sekretariat.kabinet.
Pengunggahan foto tersebut dilakukan pada hari yang sama setelah kunjungan Macron bersama Presiden Prabowo Subianto. Momen itu sontak memicu diskusi luas di media sosial tentang ketimpangan perlakuan antara warga biasa dan pejabat.
Pemerhati budaya menganggap tindakan Macron mencederai upaya konservasi warisan UNESCO. Kunto Bimo dinilai mencederai simbol religiusitas stupa yang sakral bagi pemeluk agama Buddha.
Sumber : https://www.cnnindonesia.com/nasional/20250530194747-20-1234858/apa-itu-kunto-bimo-mitos-di-candi-borobudur-yang-dicoba-macron
Penulis : Arnelya NL



