Fajarnews.co, Kabut asap semakin pekat menyelimuti Kota Pontianak, Kalimantan Barat, pada Sabtu (12/9/2026). Kondisi kualitas udara pada siang hari tercatat berada pada level yang sangat mengkhawatirkan.
Dilansir dari antarakaltim.com, Berdasarkan pemantauan IQAir pada pukul 12.00 WIB, indeks kualitas udara Pontianak mencapai 1.368, dengan polutan utama berupa PM2.5 yang tercatat memiliki konsentrasi hingga 761 µg/m³.
Angka tersebut masuk dalam kategori berbahaya. Kondisi kabut asap juga dirasakan langsung masyarakat. Sejumlah warga mengaku asap terlihat semakin tebal bahkan ketika siang hari.
“Hari ini udara makin parah, kabut asap makin pekat,” ujar seorang warga Pontianak, Darson.
Ia mengaku khawatir kondisi tersebut berdampak terhadap kesehatan, terutama karena paparan asap dapat membuat aktivitas masyarakat terganggu dan memicu keluhan seperti sesak napas.
Tingginya konsentrasi PM2.5 menjadi perhatian karena partikel tersebut berukuran sangat kecil dan dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan pedoman konsentrasi rata-rata PM2.5 selama 24 jam sebesar 15 µg/m³.
Dengan konsentrasi yang mencapai 761 µg/m³, angka PM2.5 yang terukur di Pontianak berada sekitar 51 kali lipat dari pedoman tersebut.
Kondisi atmosfer saat pengukuran juga menunjukkan cuaca cukup ekstrem. Suhu Pontianak tercatat mencapai 38 derajat Celsius, dengan kelembapan sekitar 34 persen dan kecepatan angin hanya 5 kilometer per jam.
Kombinasi udara panas, kelembapan rendah, serta angin yang relatif lemah dapat membuat polutan bertahan lebih lama di udara. Meski demikian, kondisi cuaca tersebut belum dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menentukan penyebab tingginya konsentrasi PM2.5. Diperlukan data tambahan mengenai sumber emisi dan kondisi atmosfer untuk memastikan faktor penyebabnya.
Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kabut asap. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.
Kabut asap yang semakin tebal juga menjadi pengingat bahwa penanganan sumber asap dan perlindungan kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara bersamaan, terutama ketika kondisi udara berada pada tingkat yang tidak sehat.



