Fajarnews.co, Gempa bumi berkekuatan 7,7 magnitudo yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) menyebabkan ribuan bangunan mengalami kerusakan. Kabupaten Ngada menjadi wilayah dengan jumlah rumah terdampak paling banyak berdasarkan pendataan sementara BNPB.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pendataan dan verifikasi kerusakan masih dilakukan oleh BPBD di sejumlah wilayah terdampak.
“Rincian kerusakan rumah di wilayah Kabupaten Nagekeo, terdiri 116 unit rumah rusak berat (RB), 6 unit rumah rusak sedang (RS) dan 42 unit rumah rusak ringan (RR),” kata Berton dalam keterangannya, Senin (17/8/2026).
Kerusakan juga tercatat di Kabupaten Ende dengan 108 rumah rusak berat, 85 rumah rusak sedang, dan 268 rumah rusak ringan.
Di Kabupaten Manggarai, sebanyak 761 rumah dilaporkan rusak berat, 76 rumah rusak sedang, dan 147 rumah rusak ringan. Sementara di Manggarai Timur tercatat 23 rumah rusak berat, 15 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan.
Kabupaten Manggarai Barat juga mengalami kerusakan cukup besar. Data sementara menunjukkan 481 rumah rusak berat, 202 rumah rusak sedang, dan 231 rumah rusak ringan.
Adapun Kabupaten Ngada mencatat jumlah rumah terdampak mencapai 1.796 unit. BNPB menyatakan angka tersebut masih dalam proses pendataan dan verifikasi untuk memastikan tingkat kerusakan masing-masing bangunan.
“Kabupaten Ngada, total kerusakan mencapai 1.796 unit rumah. BPBD masih melakukan pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan tersebut,” ujar Berton.
Kerusakan tidak hanya terjadi pada rumah warga. Sejumlah fasilitas publik turut terdampak, seperti tempat ibadah, fasilitas kesehatan, sekolah, perkantoran, serta sejumlah akses jalan.
Tim SAR gabungan masih disiagakan di wilayah terdampak, terutama di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Sebanyak 63 personel Basarnas bersama 1.799 personel potensi SAR terlibat dalam penanganan bencana.
“Basarnas tetap menurunkan personel secara optimal khususnya di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur,” katanya.
Selain kegiatan pencarian dan pertolongan, pemerintah juga melanjutkan pelayanan medis darurat bagi masyarakat terdampak. Pos komando akan mengoperasikan rumah sakit lapangan untuk mendukung layanan kesehatan di lokasi bencana.
Aktivitas gempa susulan masih terjadi. Pos Pendamping Nasional mencatat sebanyak 1.576 gempa susulan telah terjadi dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2.
BMKG mencatat 54 gempa susulan di antaranya dirasakan oleh masyarakat. Aktivitas kegempaan masih berubah-ubah dan pola penurunannya belum terlihat secara konsisten. Kondisi diperkirakan mulai lebih stabil dalam dua hingga tiga pekan mendatang.
Sebelumnya, gempa berkekuatan 7,7 magnitudo mengguncang NTT pada Sabtu (15/8/2026), dengan pusat gempa berada di wilayah Kabupaten Nagekeo.
Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026.
Hingga Senin (17/8/2026), BNPB mencatat korban meninggal dunia mencapai 68 orang. Sementara 213 warga lainnya dilaporkan mengalami luka-luka. Tidak ada lagi laporan warga yang dinyatakan hilang dalam bencana tersebut.



