KDMP di Hulu Kukar Terkendala Lahan Rawa dan Ancaman Banjir

redaksi

Fajarenews.co, Tenggarong – Pembangunan fisik Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di sejumlah wilayah hulu Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) menghadapi kendala kondisi geografis. Banyak desa berada di kawasan rawa dan rentan terdampak banjir, sehingga pembangunan dengan konstruksi beton menjadi sulit diterapkan.

Dilansir dari Korankaltim.com, Anggota DPRD Kukar Taufik Ridiannur meminta pemerintah menyesuaikan kebijakan pembangunan KDMP dengan kondisi masing-masing wilayah. Menurutnya, karakter geografis desa di kawasan hulu berbeda dengan wilayah perkotaan.

“Di dua desa ini memang rawan banjir. Biasanya bangunan wilayah itu pasti menggunakan tiang ulin, sedangkan bangunan KDMP ini bahannya beton,” kata Taufik, Minggu (9/8/2026).

Taufik menyebut Kecamatan Muara Wis dan Muara Muntai sebagai wilayah yang menghadapi persoalan tersebut. Jika konstruksi beton tetap menjadi ketentuan, pemerintah dapat mempertimbangkan pemindahan lokasi ke wilayah yang memiliki kontur tanah lebih tinggi.

Di Muara Wis, Desa Lebak Mantan dan Lebak Cilong dinilai dapat menjadi alternatif lokasi. Sementara di Muara Muntai, Desa Ngoroleka dan Perian disebut memiliki kondisi lahan yang lebih mendukung pembangunan dengan konstruksi beton.

“Sampai saat ini belum ada bangunan fisik di beberapa titik, ini membuat kami belum bisa mengukur tingkat keberhasilan program KDMP di Kukar secara utuh. Tetapi, kami tetap mendukung program pusat ini demi kepentingan masyarakat, asal ada penyesuaian kebijakan di lapangan,” ujarnya.

Camat Muara Muntai Mulyadi mengatakan pembangunan fisik KDMP di wilayahnya belum berlangsung di seluruh desa. Saat ini baru dua desa yang menunjukkan perkembangan pembangunan.

“Ada dua desa yang sudah berjalan, Desa Perian dan Desa Lekaq. Untuk Desa Perian progresnya sudah 80 persen, sedangkan di Desa Lekaq sudah 90 persen atau hampir selesai,” jelas Mulyadi.

Menurut Mulyadi, pembangunan di kedua desa tersebut dapat berjalan karena kondisi lahannya mendukung penggunaan fondasi beton. Berbeda dengan sejumlah desa lain yang sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan rawa.

Untuk wilayah dengan karakteristik tersebut, Mulyadi menilai konstruksi bangunan panggung atau bertiang dapat menjadi alternatif agar pembangunan tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi lingkungan setempat.

Ia berharap pelaksanaan pembangunan KDMP tidak hanya berorientasi pada pencapaian target fisik. Perencanaan juga perlu mempertimbangkan kondisi geografis dan kebutuhan masing-masing desa.

Selain pembangunan infrastruktur, Mulyadi mendorong KDMP menjalin kemitraan dengan pelaku UMKM lokal. Langkah tersebut dinilai dapat membantu membuka peluang usaha sekaligus memperkuat perekonomian masyarakat desa.

Related Post

Tinggalkan komentar