Bupati Kukar Sentil Keras Polemik Raperda Pesantren: Cari Sensasi Jangan Bawa-bawa Agama

redaksi

Fajarnews.co,Kutai Kartanegara, Selasa (12/05/2026) – Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, angkat bicara terkait polemik Raperda Fasilitasi dan Pengembangan Pesantren yang sempat memicu perdebatan dalam rapat paripurna DPRD Kukar.

Aulia menegaskan Pemerintah Kabupaten Kukar selama ini justru aktif mendukung pondok pesantren dan kegiatan keagamaan di daerah. Ia bahkan mengaku heran dengan munculnya anggapan bahwa pemerintah daerah tidak berpihak kepada pesantren.

“Saya berani menjamin, mungkin saya lebih sering datang ke pesantren dibanding orang-orang yang menyampaikan hal tersebut,” tegas Aulia.

Menurutnya, kedekatan pemerintah daerah dengan kalangan pesantren dan organisasi keagamaan dapat dilihat langsung melalui berbagai kegiatan yang rutin dilakukan, termasuk Safari Subuh bersama organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, dan LDII.

“Teman-teman media juga bisa lihat faktanya di lapangan. Tidak mungkin Pemerintah Kabupaten Kukar tidak berpihak kepada pesantren,” ujarnya.

Aulia juga menyinggung program bantuan bagi santri yang saat ini telah dijalankan Pemkab Kukar. Ia menyebut sebanyak 2.662 santri telah menerima bantuan biaya hidup sebesar Rp250 ribu per bulan.

“Jadi menurut saya tudingan seperti itu tidak masuk akal,” katanya.

Terkait polemik Raperda Pesantren, Aulia mengaku persoalan tersebut sebelumnya belum sampai langsung kepadanya. Namun setelah menerima laporan dari Sekretaris Kabupaten, ia menilai substansi Raperda tersebut baik untuk pengembangan pesantren di Kukar.

“Setelah saya lihat, ini bagus untuk pesantren. Silakan saja dilanjutkan,” ucapnya.

Meski demikian, Aulia menyayangkan polemik tersebut berkembang menjadi kegaduhan publik. Ia mengingatkan agar isu agama dan pesantren tidak dijadikan bahan untuk mencari sensasi politik.

“Kalau mau cari sensasi jangan seperti itu, apalagi membawa isu pesantren dan agama,” tegasnya.

Ia pun mengajak seluruh pihak untuk lebih fokus menjaga kondusivitas daerah dan mengutamakan pembangunan dibanding memperbesar persoalan yang menurutnya belum jelas duduk perkaranya.

“Gunakan energi kita benar-benar untuk membangun daerah, bukan membesar-besarkan persoalan yang belum tentu seperti yang dibayangkan,” pungkasnya.

Related Post

Tinggalkan komentar