Fajarnews.co,Kutai Kartanegara, Selasa (07/04/2026) – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Kutai Kartanegara bergerak cepat menangani kasus seorang pria yang mengalami kondisi linglung bersama anaknya yang masih berusia 9 tahun. Keduanya diketahui hidup tanpa pengasuhan memadai setelah sang ibu meninggal dunia.
Kepala Bidang Rehabilitasi Sosial Dinsos Kukar, Sunarko, menjelaskan bahwa kondisi tersebut berawal dari perubahan perilaku sang ayah dalam beberapa bulan terakhir. Ia mulai terlihat lemah, tidak responsif terhadap makanan, hingga kerap berperilaku tidak teratur.
“Informasi yang kami terima, kondisi bapaknya mulai terlihat sekitar dua bulan terakhir. Dikasih makan hanya dilihat, tidak dimakan, kemudian sering berbaring dan berperilaku tidak teratur,” ujarnya.
Kasus ini sendiri baru terungkap setelah laporan dari masyarakat dan relawan yang masuk pada malam Jumat. Namun, koordinasi intensif dengan Dinsos baru terjadi pada Sabtu malam, setelah lokasi dan identitas korban dipastikan.
Menurut Sunarko, pihaknya sempat mempertimbangkan keterbatasan daya tampung fasilitas yang dimiliki. Meski demikian, penanganan tetap dilakukan dengan mengutamakan keselamatan korban.
“Hari ini kami koordinasikan dengan Rumah Sakit Parikesit untuk penanganan awal. Yang bersangkutan akan dirawat sementara sampai kondisinya membaik dan memiliki tenaga untuk beraktivitas,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa pria tersebut bukan termasuk Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ), melainkan mengalami kondisi fisik yang sangat lemah sehingga memengaruhi perilakunya.
“Bukan ODGJ, masih nyambung diajak komunikasi. Hanya kondisinya sangat lemah,” tambahnya.
Setelah mendapatkan perawatan medis, Dinsos Kukar berencana merujuk yang bersangkutan ke panti sosial milik provinsi yang khusus menangani orang terlantar. Hal ini dilakukan karena fasilitas serupa di daerah saat ini dalam kondisi penuh.
Di sisi lain, perhatian juga diberikan kepada anak korban yang kini tidak lagi bersekolah. Berdasarkan informasi, anak tersebut terakhir mengenyam pendidikan di kelas 1 SD sebelum akhirnya putus sekolah.
“Kami minta relawan untuk memotivasi anaknya agar mau kembali sekolah. Jika memang tidak ada yang mengasuh, nanti kami rujuk ke panti sosial di provinsi yang menangani anak yatim dan keluarga kurang mampu,” ungkapnya.
Proses penanganan saat ini masih berlangsung, termasuk administrasi serah terima dari pihak pelapor kepada Dinsos Kukar. Setelah itu, seluruh tanggung jawab penanganan akan sepenuhnya berada di bawah Dinas Sosial.
Sunarko memastikan pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga kedua korban mendapatkan penanganan dan perlindungan yang layak dari negara.



