Fajarnews.co, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan membawa ancaman serius bagi satwa liar, terutama orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus). Api dan asap yang mendekati habitat membuat satwa endemik tersebut berisiko kehilangan tempat hidup dan sumber makanan.
Berdasarkan data Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) 2016, populasi orangutan Kalimantan diperkirakan mencapai 57.350 individu. Angka tersebut turun sekitar 80 persen dibandingkan estimasi 288.500 individu pada 1973.
Orangutan Kalimantan terbagi dalam tiga subspesies. Pongo pygmaeus wurmbii diperkirakan berjumlah 38.200 individu di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat. Pongo pygmaeus pygmaeus diperkirakan sekitar 4.520 individu di Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. Sementara Pongo pygmaeus morio diperkirakan sekitar 14.630 individu di Kalimantan Timur dan Sabah, Malaysia.
Ancaman karhutla terhadap habitat orangutan juga kembali terlihat pada musim kemarau 2026. BNPB mencatat 1.487 titik panas di Kalimantan hingga Kamis (20/8). Sebaran terbanyak berada di Kalimantan Tengah dengan 767 titik, kemudian Kalimantan Barat 560 titik, Kalimantan Selatan 74 titik, Kalimantan Timur 74 titik, dan Kalimantan Utara tiga titik.
CEO Borneo Orangutan Survival (BOS) Foundation Jamartin Sihite mengatakan sebagian titik kebakaran mulai mendekati kawasan yang menjadi habitat orangutan.
“Di Kalimantan Barat sudah, di Kalimantan Tengah juga sudah mulai mendekat ke pusat-pusat populasi seperti dekat ke Taman Nasional Sebangau, di daerah Pulang Pisau, ini daerah-daerah yang juga ada orangutannya, dan cukup besar,” ujar Jamartin, Jumat (21/8/2026).
Ancaman tidak berhenti ketika api belum mencapai kawasan hutan. Asap pekat juga dapat mengganggu ekosistem dan mengurangi ketersediaan makanan orangutan.
Menurut Jamartin, paparan asap dalam waktu lama dapat menghambat proses tanaman berbunga dan berbuah. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi sumber pakan orangutan.
“Data kami menunjukkan, di pusat penelitian kita di Tuanan, semakin panjang masa asap, semakin kecil peluang tanaman di hutan berbunga dan berbuah. Artinya ketika asap besar, maka peluang orangutan nanti kehilangan makanan, itu cukup besar juga,” jelasnya.
Asap yang pekat juga dapat mendorong orangutan meninggalkan kawasan hutan untuk mencari tempat yang lebih aman. Kondisi tersebut meningkatkan kemungkinan satwa masuk ke perkebunan atau permukiman warga.
Salah satu kejadian terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah. Orangutan ditemukan berada di area perkebunan masyarakat. BKSDA Kalimantan Tengah menduga asap tebal dan kebakaran di sekitar habitat menjadi salah satu pemicunya.
Dampak karhutla juga dapat berlangsung jauh setelah api berhasil dipadamkan. Jamartin menyebut kebakaran yang menghasilkan asap selama dua hingga tiga bulan dapat menyebabkan berkurangnya sumber makanan satwa selama enam hingga tujuh bulan.
Pemulihan hutan juga membutuhkan waktu panjang. Satu pohon yang terbakar membutuhkan setidaknya 15 tahun untuk kembali tumbuh dengan perawatan yang memadai.
Karena itu, upaya konservasi dinilai harus berlanjut setelah kebakaran berakhir, termasuk melalui rehabilitasi dan penanaman kembali kawasan hutan yang rusak.
“Jangan ketika api sudah hilang, asapnya sudah hilang, ingatan kita akan kebakaran hutan, itu juga hilang. Ini yang enggak boleh. Setelah kebakaran hutan, ayo kita tanam kembali pohon itu. Seribu kali pohon kita kebakar, kita tanam [kembali] seribu satu kali supaya kita bisa punya hutan buat orangutan,” kata Jamartin.
Hingga saat ini belum ada laporan orangutan mati akibat karhutla. Namun, satwa lain ditemukan terdampak. Manggala Agni Ketapang, Kalimantan Barat, melaporkan sejumlah ular ditemukan mati di lokasi terdampak kebakaran.
Plt Kepala Daops Manggala Agni Kalimantan X/Ketapang Efendi mengatakan belum menemukan orangutan maupun beruang yang mati akibat kebakaran.
“Kalau untuk orangutan atau beruang sejauh ini kami belum menemukan, karena biasanya hewan tersebut instingnya lebih kuat. Ketika mereka mendengar suara api dari kejauhan, mereka akan cepat menjauh dan pergi,” ujarnya.
Penanganan karhutla di Kalimantan saat ini melibatkan dukungan udara. TNI AU mengirimkan tiga pesawat Casa NC-212 dari Skadron Udara 4 untuk mendukung operasi modifikasi cuaca.
Selain itu, sekitar 20 pesawat yang dikerahkan BPBD beroperasi di wilayah Kalimantan. Armada tersebut terdiri dari lima helikopter, tiga pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, dan 12 helikopter berkapasitas besar untuk water bombing.
Upaya pemadaman menjadi penting untuk mencegah api semakin masuk ke kawasan habitat satwa. Namun, pemulihan ekosistem dan perlindungan sumber makanan orangutan tetap menjadi pekerjaan jangka panjang setelah karhutla berakhir.



