Fajarnews.co, Pasar keuangan Indonesia menunjukkan pergerakan positif pada awal pekan. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sama-sama mencatat penguatan setelah sebelumnya tertekan oleh ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik.
Pada perdagangan Senin, IHSG melonjak sekitar 3 persen atau naik 180 poin ke level 6.188. Di saat yang sama, rupiah menguat 100 poin menjadi Rp17.760 per dolar AS. Penguatan tersebut memunculkan optimisme baru di kalangan pelaku pasar mengenai arah ekonomi domestik dalam beberapa bulan mendatang.
Pengamat pasar keuangan Ibrahim Assuaibi menilai sentimen positif datang dari meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran. Rencana penandatanganan nota kesepahaman damai antara kedua negara dinilai memberikan harapan terhadap stabilitas jalur perdagangan energi global, khususnya di Selat Hormuz.
Menurut Ibrahim, terbukanya kembali akses pelayaran di kawasan tersebut berkontribusi terhadap penurunan harga minyak dunia. Kondisi itu memberi dampak positif bagi negara pengimpor minyak seperti Indonesia karena berpotensi mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan dan nilai tukar rupiah.
Selain itu, penguatan pasar saham global juga turut mendukung kenaikan IHSG. Bursa saham di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia dilaporkan bergerak positif sehingga meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset berisiko, termasuk di Indonesia.
Ibrahim menilai peluang penguatan rupiah dan IHSG masih terbuka apabila harga minyak dunia terus bergerak turun. Dengan asumsi harga minyak dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 berada di kisaran US$70 per barel, penurunan harga di bawah level tersebut dinilai dapat menjadi sentimen positif tambahan bagi ekonomi nasional.
Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet berpandangan bahwa penguatan saat ini lebih tepat disebut sebagai fase stabilisasi pasar dibanding sinyal pemulihan yang telah terkonfirmasi sepenuhnya.
Menurut Yusuf, selain meredanya risiko global, kebijakan Bank Indonesia yang mempertahankan daya tarik aset rupiah melalui suku bunga juga turut membantu meningkatkan kepercayaan investor. Namun, ia mengingatkan bahwa pasar masih membutuhkan aliran modal asing yang lebih konsisten untuk membentuk tren penguatan jangka panjang.
Ia menilai sejumlah agenda penting dalam beberapa pekan ke depan masih akan memengaruhi arah pasar, mulai dari keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, evaluasi MSCI, rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, hingga penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Karena itu, pergerakan rupiah dan IHSG dalam satu hingga dua bulan mendatang akan menjadi indikator penting untuk menentukan apakah penguatan saat ini merupakan awal pemulihan yang berkelanjutan atau sekadar respons sementara terhadap membaiknya sentimen global.



