Kutai Kartanegara – Sejumlah keramba milik warga Desa Loa Kulu Kota, Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, dilaporkan rusak setelah tertabrak kapal tongkang bermuatan batu bara. Insiden tersebut terjadi pada waktu magrib dan menyebabkan kerugian material bagi warga, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Sekretaris Desa Loa Kulu Kota, Rian, mengatakan pemerintah desa telah hadir dalam proses mediasi yang difasilitasi oleh kepolisian bersama pihak perusahaan pemilik kapal. Dari hasil pendataan sementara di lapangan, tercatat sekitar 10 warga yang menjadi korban dalam kejadian tersebut.
“Dari hasil mediasi tadi, kami juga hadir mendampingi. Korban kurang lebih ada 10 orang, dan mereka sudah didatangi satu per satu untuk dilakukan cross-check terkait kerusakan yang dialami,” ujarnya, Senin (05/01/2025).
Ia menjelaskan, proses pendataan dilakukan secara door to door oleh tim dari pihak perusahaan dan kepolisian untuk memastikan kondisi keramba serta kerugian yang dialami warga. Namun, hingga saat ini estimasi nilai kerugian belum dapat dipastikan.
“Untuk estimasi kerugian kami belum tahu, karena itu masih dalam tahap investigasi dari kepolisian dan pihak perusahaan. Hari ini mereka hanya mengumpulkan data di lapangan,” jelasnya.
Meski demikian, Rian menyebut pihak perusahaan menunjukkan itikad baik dengan menyatakan kesediaan untuk bertanggung jawab atas kerusakan yang terjadi. Hasil pendataan di lapangan tersebut nantinya akan dibawa ke manajemen perusahaan untuk dibahas lebih lanjut.
“Alhamdulillah dari pihak perusahaan ada etikat baik untuk bertanggung jawab. Setelah data ini lengkap, mereka langsung ke manajemen untuk membahas hasil hari ini,” katanya.
Rian menambahkan, ke depan proses penyelesaian akan langsung melibatkan warga terdampak dengan pihak perusahaan, termasuk asuransi. Pemerintah desa hanya berperan sebagai pendamping agar proses berjalan dengan baik.
“Selanjutnya itu sudah urusan warga dengan pihak perusahaan, dan juga melibatkan asuransi. Kami dari pemerintah desa hanya mendampingi,” tegasnya.
Terkait kronologi kejadian, Rian mengaku pemerintah desa tidak mengetahui secara rinci. Insiden tersebut terjadi saat waktu salat magrib, sehingga warga tidak melihat langsung peristiwa tabrakan tersebut.
“Kejadiannya pas magrib, orang lagi salat. Tahu-tahu keramba sudah hancur. Kapal yang menabrak pun sudah berada di seberang saat kami tahu,” ungkapnya.
Ia memastikan tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini dan seluruh kerugian bersifat material. Atas kejadian tersebut, seluruh pihak sepakat untuk menyelesaikan persoalan melalui musyawarah karena dianggap sebagai musibah.
“Tidak ada korban jiwa, hanya kerugian material. Kita berunding karena ini mutlak musibah, tidak ada yang menginginkan kejadian seperti ini,” tambahnya.
Rian juga menyebut hingga kini belum ada penjelasan pasti mengenai penyebab kapal tongkang tersebut bisa menabrak area keramba warga. Informasi yang beredar hanya berasal dari pihak kepolisian yang menangani kejadian di lokasi.
“Penjelasan kenapa bisa terjadi juga belum ada. Katanya tadi ada kapal lain di sekitar lokasi, tapi posisinya seperti apa kami tidak tahu. Itu sudah dimediasi oleh kepolisian dengan masing-masing kapten kapal,” jelasnya.
Dalam pendataan, pemerintah desa berharap warga menyampaikan keterangan secara jujur dan sesuai kondisi di lapangan.
“Kami harapkan warga memberikan keterangan yang sebenar-benarnya. Kalau memang ada ikan ya sampaikan ada, kalau tidak ada juga bilang tidak ada,” pungkasnya
Hingga berita ini diterbitkan, pihak perusahaan pemilik kapal tongkang batu bara belum menyampaikan keterangan resmi terkait kejadian tersebut. Sementara itu, proses pendataan kerusakan dan pembahasan lanjutan masih dilakukan oleh pihak terkait, dengan pendampingan kepolisian dan pemerintah desa, guna memastikan penanganan terhadap warga yang terdampak berjalan sesuai prosedur.



