Korban Gempa NTT Bertambah Menjadi 75 Orang, 502 Sekolah Rusak Berat

redaksi

Fajarnews.co, Korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang melanda sejumlah wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) kembali bertambah. Hingga Kamis (20/8/2026) sore, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 75 orang meninggal dunia.

Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah tersebut meningkat empat orang dibandingkan laporan sebelumnya yang mencatat 71 korban jiwa.

“Di mana kemarin kami memberitakan 71 jiwa. Hari ini bertambah empat jiwa dengan rincian di Kabupaten Sikka bertambah dua, Kabupaten Manggarai bertambah satu, Nagekeo bertambah satu,” ujar Berton dalam konferensi pers BNPB, Kamis (20/8).

Selain korban meninggal, BNPB mencatat 907 orang mengalami luka-luka. Aktivitas gempa susulan juga menyebabkan jumlah warga yang mengungsi terus meningkat.

BNPB kini mencatat sebanyak 92.735 warga berada di lokasi pengungsian. Angka tersebut naik signifikan dari sebelumnya 59.647 jiwa.

Penambahan jumlah pengungsi paling banyak terjadi di Kabupaten Nagekeo dengan 21.883 orang. Selanjutnya Kabupaten Manggarai bertambah 9.649 pengungsi dan Kabupaten Manggarai Barat sebanyak 1.556 orang.

Dampak gempa juga dirasakan sektor pendidikan. Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat menyebut sebanyak 1.378 satuan pendidikan terdampak bencana.

Dari jumlah tersebut, 502 sekolah mengalami kerusakan berat yang tersebar di tujuh kabupaten. Kondisi itu berdampak terhadap 177.678 siswa serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.

“Di sektor pendidikan, gempa bumi berdampak terhadap 1.378 satuan pendidikan. Dengan 502 sekolah di antaranya dilaporkan rusak berat di 7 kabupaten yang meliputi 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan,” kata Atip.

Pemerintah mengambil sejumlah langkah agar kegiatan belajar tetap berlangsung di tengah kondisi pascagempa. Sebanyak 923 sekolah sementara diliburkan, 30 sekolah masih menggelar pembelajaran tatap muka, 35 sekolah menggunakan fasilitas darurat, dan 171 sekolah menerapkan pembelajaran jarak jauh.

Kemendikdasmen juga menyiapkan ruang kelas darurat secara bertahap. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendistribusikan 100 tenda yang akan digunakan sebagai ruang kelas sementara.

Atip mengatakan kegiatan belajar mengajar menyesuaikan kebijakan Pemerintah Provinsi NTT. Pembelajaran dapat dilakukan dari rumah maupun lokasi pengungsian untuk menghindari bangunan yang berisiko roboh akibat gempa susulan.

“Pelaksanaan pembelajaran mengikuti kebijakan dari Gubernur NTT untuk melaksanakan pembelajaran dari rumah dan di tempat pengungsian agar menghindari bangunan yang berpotensi roboh dan melukai karena gempa susulan yang masih terus berlangsung,” ujarnya.

Related Post

Tinggalkan komentar