Fajarnews.co, Samarinda, Minggu (16/08/2026) – Bagi sebagian pelajar, pergi ke sekolah mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun, bagi Caca, siswi SMP Negeri 31 Samarinda, perjalanan menuju bangku sekolah harus ditempuh dengan berjalan kaki sejauh kurang lebih lima kilometer.
Jarak tersebut harus dilaluinya setiap hari. Artinya, dalam sehari Caca bisa berjalan sekitar 10 kilometer untuk pergi dan pulang sekolah. Tak jarang, ia harus melewati jalan berbatu dan kawasan yang cukup sepi.
Perjuangan itu akhirnya diketahui pihak sekolah setelah seorang guru bernama Nur tanpa sengaja melihat Caca berjalan kaki sendirian. Merasa iba, sang guru kemudian memberikan tumpangan hingga mengantarnya ke rumah.
Dari pertemuan tersebut, kondisi kehidupan Caca dan keluarganya mulai terungkap. Selain harus berjuang menempuh perjalanan panjang menuju sekolah, Caca juga tumbuh dalam keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas.
Ketua Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Kalimantan Timur, Rina Zainun, mengatakan kisah Caca menjadi perhatian setelah pihaknya mengetahui perjuangan sang siswi untuk tetap mendapatkan pendidikan.
“Ini berkaitan dengan anak kita, atas nama Caca yang sekolah itu jalan kaki menempuh jarak 5 km. Jadi kalau pulang pergi itu 10 km dengan lokasi jalan yang sangat jauh, kemudian di lokasinya itu berbatu-batu,” ujarnya.
Menurut Rina, kondisi tersebut cukup memprihatinkan karena perjalanan yang dilakukan Caca bukan hanya jauh, tetapi juga harus melewati medan yang tidak mudah.
Kondisi keluarga Caca turut menjadi perhatian. Ayahnya sehari-hari bekerja sebagai buruh serabutan, sedangkan ibunya merupakan ibu rumah tangga yang mengalami gangguan pendengaran. Salah seorang kakaknya juga diketahui mengalami kelumpuhan.
Keterbatasan ekonomi membuat kebutuhan sehari-hari keluarga harus dipenuhi dengan kondisi yang serba terbatas. Bahkan, menurut Rina, Caca terkadang harus berangkat ke sekolah dalam keadaan belum makan.
“Jadi kadang kasihan anak ini ke sekolah dalam kondisi lapar,” ungkapnya.
Melihat kondisi tersebut, kepedulian kemudian datang dari berbagai pihak. Pihak sekolah, Kelurahan Simpang Pasir dan Satlantas Polresta Samarinda bersama-sama memberikan bantuan untuk meringankan beban Caca.
Bantuan yang diberikan berupa sepeda, sembako, seragam sekolah, perlengkapan tulis hingga sepatu.
Sepeda tersebut diharapkan dapat memangkas perjalanan Caca yang selama ini harus dilalui dengan berjalan kaki. Di sisi lain, bantuan tersebut juga menjadi bentuk dukungan agar semangat Caca untuk bersekolah tidak padam hanya karena keterbatasan keadaan.
Kisah Caca menjadi gambaran bahwa keinginan untuk tetap belajar terkadang harus dibayar dengan perjuangan yang tidak ringan. Di tengah keterbatasan, ia tetap memilih berjalan menuju sekolah dan melanjutkan pendidikannya.



