Fajarnews.co,Kutai Kartanegara – Pernyataan tokoh politik senior Marwan yang melontarkan istilah “duel” dalam konteks politik daerah menuai tanggapan dari PDI Perjuangan Kutai Kartanegara. Istilah tersebut dinilai berisiko memicu polarisasi di tengah masyarakat.
Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kukar, Andi Faisal, menilai bahwa penggunaan diksi yang mengarah pada konfrontasi terbuka tidak mencerminkan semangat demokrasi yang sehat.
“Bahasa dalam politik itu penting. Ketika narasi yang muncul cenderung konfrontatif, dampaknya bisa meluas ke masyarakat,” ujarnya.
Faisal menegaskan bahwa perbedaan sikap dan strategi politik adalah hal yang wajar. Namun, ia mengingatkan agar dinamika tersebut tidak berkembang menjadi kesan rivalitas yang berlebihan, apalagi sampai membelah masyarakat.
Menurutnya, politik lokal saat ini justru membutuhkan suasana yang stabil dan kolaboratif, terlebih di tengah tekanan fiskal yang sedang dihadapi daerah. Ia menilai, perhatian publik seharusnya diarahkan pada isu-isu substansial seperti pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai ruang publik dipenuhi narasi persaingan yang tidak produktif. Yang dibutuhkan masyarakat adalah solusi, bukan sensasi,” tegasnya.
PDI Perjuangan Kukar, lanjut Faisal, tetap berkomitmen menjaga iklim politik yang sehat dengan mengedepankan adu gagasan, bukan adu kekuatan. Ia juga memastikan bahwa partainya tidak melihat kontestasi politik sebagai ajang permusuhan.
Di akhir pernyataannya, Faisal mengajak seluruh aktor politik di Kutai Kartanegara untuk menahan diri dalam membangun narasi di ruang publik.
“Stabilitas politik adalah modal utama pembangunan. Jika itu terganggu, maka yang dirugikan adalah masyarakat luas,” pungkasnya.



