Fajarnews.co, Kutai Kartanegara, Kamis (09/04/2026) – Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diarpus) Kutai Kartanegara, Ridha Darmawan, menyampaikan bahwa pameran kearsipan yang digelar di Perpustakaan Umum Kukar tidak hanya menjadi ajang apresiasi, tetapi juga sarana edukasi bagi masyarakat untuk memahami perjalanan sejarah daerah.
Ridha menjelaskan, dalam kegiatan tersebut penghargaan kepada pengelola arsip telah diserahkan langsung oleh Bupati Kutai Kartanegara. Sementara itu, pihaknya juga menghadirkan pameran kearsipan yang dibagi dalam lima zona tematik.
“Penghargaan sudah disampaikan oleh Bupati, sekaligus kami menyelenggarakan pameran kearsipan. Dalam pameran ini kami bagi menjadi lima zona agar masyarakat lebih mudah memahami,” ujarnya.
Ia merinci, zona pertama menampilkan arsip yang berkaitan dengan era kesultanan atau kerajaan di Kutai Kartanegara. Zona kedua berisi arsip masa kolonial, termasuk dokumentasi kegiatan pertambangan, ekonomi, hingga sosial budaya pada masa lampau.
“Di zona kolonial, kita tampilkan foto-foto kegiatan zaman dahulu, baik pertambangan, ekonomi, maupun sosial budaya. Itu semua merupakan arsip visual atau non-tekstual,” jelasnya.
Selanjutnya, zona ketiga menampilkan arsip terkait pembentukan otonomi daerah Kutai Kartanegara. Dokumen seperti surat keputusan (SK) menjadi bagian dari arsip tekstual yang memiliki nilai historis penting.
Sementara itu, zona keempat menampilkan arsip pembangunan modern, seperti proyek infrastruktur dan hasil pembangunan terkini. Ridha menegaskan bahwa seluruh proses pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan, merupakan bagian dari arsip dinamis.
“Arsip itu ada yang masih digunakan, disebut arsip dinamis. Tapi ketika sudah memiliki nilai sejarah, maka akan menjadi arsip statis,” terangnya.
Adapun zona kelima berfokus pada digitalisasi arsip, termasuk hasil pemindaian dokumen, foto, hingga rekaman video. Selain itu, Diarpus juga menghadirkan zona teater yang menampilkan arsip berbentuk film atau video kegiatan.
“Semua aktivitas yang terekam, baik tertulis maupun visual, itu adalah arsip. Bahkan film dan video juga kami tampilkan di teater agar masyarakat bisa melihat langsung,” tambahnya.
Ridha menyebutkan, pameran kearsipan ini berlangsung selama dua hari, mulai Kamis hingga Jumat. Ia berharap masyarakat dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenal lebih dekat sejarah Kutai Kartanegara dari masa kesultanan hingga era modern.
“Mudah-mudahan masyarakat bisa berkunjung untuk melihat arsip kita, mulai dari zaman kesultanan, kolonial, hingga pembangunan modern saat ini,” tutupnya.



