Fajarnews.co,Kutai Kartanegara, Selasa (10/02/2026) – Sebuah patung Pesut Mahakam kini menjadi ikon baru di Desa Muara Muntai Ulu, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara. Menariknya, patung tersebut dibuat dengan anggaran yang sangat minim, yakni sekitar Rp350 ribu hingga Rp390 ribu, tanpa menggunakan dana desa.
Kepala Desa Muara Muntai Ulu, Husain Ahmad, menjelaskan bahwa ide pembuatan patung pesut bermula secara spontan dari seorang tukang bangunan yang tengah mengerjakan pelantaran masjid di desa tersebut.
“Awalnya itu saya mendengar ide dari seorang tukang yang sedang memperbaiki pelantaran masjid. Saat istirahat kerja, beliau punya inspirasi dan ingin membuat ikon Muara Muntai, lalu meminta persetujuan saya,” ujarnya.
Menurut Husain, ide tersebut langsung ia setujui karena dinilai positif dan memiliki nilai edukasi. Patung pesut dipilih karena Muara Muntai dikenal sebagai wilayah nelayan sekaligus habitat Pesut Mahakam yang kini semakin langka.
“Di Muara Muntai ini kan wilayah nelayan, dan pesut sering terlihat lewat di Sungai Mahakam. Sekarang pesut sudah hampir punah, jadi patung ini juga sebagai pengingat agar kita menjaga kelestarian alam, khususnya di Sungai Mahakam,” katanya.
Husain menegaskan, pembuatan patung tersebut tidak menggunakan anggaran desa. Dana yang dikeluarkan hanya untuk membeli mesin pompa air agar patung tampak mengeluarkan air dari mulut pesut.
“Kalau dibilang anggaran, kita tidak pakai dana desa. Hanya dana pribadi, itu pun untuk membeli mesin pompa air, harganya sekitar Rp390 ribu,” jelasnya.
Sementara itu, pengrajin patung Pesut Mahakam, Joko Saptono, mengaku pembuatan patung tersebut murni berangkat dari keikhlasan dan rasa cinta terhadap lingkungan sekitar.
“Saya sudah hampir 10 tahun di sini. Awalnya mau pulang ke Jawa, tapi muncul ide ini. Bahannya semua bekas, sterofoam di bagian dalam, lalu disemen. Semen, pasir, besi, semuanya dari sisa-sisa bahan pelantaran masjid,” ungkapnya.
Ia menyebut, proses pengerjaan patung terbilang singkat karena dikerjakan di sela-sela waktu istirahat kerja dan saat hujan.
“Kalau dihitung hari, mungkin dua sampai tiga hari saja. Pas hujan saya tidak bisa kerja di masjid, jadi saya kerjakan di dalam kamar,” katanya.
Patung pesut tersebut memiliki tinggi hampir dua meter dengan posisi melengkung. Joko mengaku tidak mengalami kendala berarti selama proses pembuatan, selain faktor cuaca.
“Tidak ada kendala, cuma hujan saja. Ini juga dibuat sambil istirahat kerja. Saya sehari-hari kuli bangunan, tapi ya bisa melukis juga,” ujarnya.
Keberadaan patung Pesut Mahakam ini pun mendapat sambutan positif dari masyarakat. Selain mempercantik desa, ikon baru tersebut diharapkan menjadi simbol kepedulian warga Muara Muntai terhadap pelestarian Pesut Mahakam dan lingkungan Sungai Mahakam.



