Fajarnews.co, Kutai Kartanegara – Tidak banyak desa yang berani mengambil langkah berani dalam pengelolaan keuangan. Namun Desa Loa Duri Ilir di Kecamatan Loa Janan, Kutai Kartanegara, kini menjadi pionir dengan menerapkan sistem digitalisasi penuh.
Kepala Desa H. Fakri Arsyad menegaskan, semua transaksi di desa telah menggunakan sistem non-tunai.
“Mau tukang, penerima BLT, maupun kegiatan lain, semua dibayar secara digital. Tidak ada lagi tunai,” ujarnya, Kamis (02/10/2025).
Alasannya sederhana transparansi. Dengan sistem non-tunai, dana tidak mudah disalahgunakan dan lebih mudah diaudit.
“Kalau semua tercatat digital, masyarakat juga bisa percaya bahwa uang desa dikelola dengan baik,” tambahnya.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan penggunaan dana desa yang sudah diatur ketat. Fakri menjelaskan, sebagian anggaran desa sudah terkunci dalam IRMA (Instrumen Rekening Manajemen Anggaran). Misalnya 15% untuk BLT, 25% untuk ketahanan pangan dan stunting, sisanya baru bisa digunakan untuk infrastruktur.
Namun, keterbatasan anggaran masih menjadi kendala besar, terutama dalam penanganan banjir.
“Kalau bicara infrastruktur, dana desa tidak cukup. Kami butuh dukungan dari pemerintah kabupaten dan provinsi,” katanya.
Menurutnya, desa sudah berusaha maksimal. Meski dengan anggaran terbatas, prioritas tetap diarahkan pada kebutuhan mendesak masyarakat.
“Banjir itu masalah utama kami, tapi dana yang ada belum bisa menutup semua,” jelasnya.
Fakri berharap langkah digitalisasi ini mendapat dukungan lebih luas dari kabupaten hingga provinsi.
“Kalau desa sudah transparan, seharusnya lebih mudah bagi pemerintah daerah atau perusahaan membantu,” ujarnya.
Dengan kombinasi transparansi dan inovasi, Desa Loa Duri Ilir mencoba menempatkan diri sebagai desa modern di tengah keterbatasan.
“Kami ingin jadi desa yang mandiri, tidak hanya bergantung pada tambang. Dan itu harus dimulai dari tata kelola yang baik,” pungkasnya.(zln)



