Fajarnews.co, Kutai Barat – Pemerintah Kabupaten Kutai Barat (Kubar), Kalimantan Timur, memperkuat kesiapsiagaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan melatih 490 anggota masyarakat sebagai tenaga terampil pengendalian kebakaran.
Dilansir dari antara.com, Pelatihan tersebut berlangsung di Samarinda pada 24-31 Agustus 2026. Kegiatan digelar selama 60 jam pelajaran, dengan materi 22 jam teori dan 38 jam praktik.
Wakil Bupati Kutai Barat Nanang Adriani mengatakan peserta terbagi dalam dua kelompok, yakni 280 orang fire crew 1 dan 210 orang fire crew 2.
“Pelatihan ini diikuti 490 peserta, terdiri atas fire crew 1 sebanyak 280 orang dan fire crew 2 sebanyak 210 orang,” kata Nanang di Sendawar, Selasa (25/8/2026).
Seluruh peserta merupakan anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) yang dibina Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubar. Mereka dipersiapkan untuk membantu pencegahan, pemantauan, deteksi dini, hingga penanganan awal ketika kebakaran terjadi di wilayah masing-masing.
Program peningkatan kapasitas tersebut telah dilakukan Pemkab Kubar selama lima tahun terakhir. Dalam pelaksanaannya, pemerintah daerah bekerja sama dengan Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM (BP2SDM) Wilayah V Samarinda.
Dari program tersebut, ratusan anggota masyarakat telah memperoleh keterampilan dalam menghadapi karhutla. Mereka diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam merespons kebakaran sebelum api meluas.
Nanang mengatakan penguatan kemampuan masyarakat menjadi penting karena sejumlah wilayah Kubar masih menghadapi ancaman karhutla. Sejauh ini, kebakaran yang terjadi telah berhasil dilokalisasi dan dipadamkan oleh tim gabungan bersama masyarakat.
Meski api telah terkendali, pos pemantauan tetap disiagakan untuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
“Kondisi ini menjadi pengingat bahwa karhutla bukan persoalan yang dapat dianggap biasa. Dampaknya tidak hanya terhadap hutan dan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu aktivitas masyarakat, kesehatan, kualitas udara, serta kehidupan sosial dan ekonomi,” ujarnya.
Menurut Nanang, penanganan karhutla harus dimulai dari pencegahan. Edukasi masyarakat, pemantauan kondisi lapangan, deteksi dini, dan kesiapsiagaan perlu diperkuat agar penanganan dapat dilakukan sebelum api berkembang menjadi lebih besar.
Ia juga meminta masyarakat tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga diminta segera melapor kepada petugas apabila menemukan titik api atau aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran.
“Saya mengapresiasi peran MPA yang selama ini sigap dalam deteksi dini hingga penanganan. Mereka memiliki peran strategis dalam kondisi karhutla. MPA menjadi mata dan telinga pemerintah di tingkat kampung melalui pemantauan, edukasi kepada masyarakat, serta penanganan awal sebelum api makin meluas,” kata Nanang.
Pemkab Kubar berharap keberadaan tenaga terlatih di tingkat kampung dapat mempercepat respons ketika terjadi kebakaran sekaligus memperkuat upaya pencegahan karhutla di wilayah yang rawan.



