Fajarnews.co,Jakarta pagi yang semula tenang berubah mencekam ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,6 mengguncang wilayah perairan Bitung, Sulawesi Utara dan Maluku Utara, Kamis (2/4). Getaran kuat yang terasa hingga Kota Manado tak hanya memicu kepanikan, tetapi juga menelan korban jiwa.
Seorang warga dilaporkan meninggal dunia setelah tertimpa reruntuhan bangunan saat gempa terjadi. Selain itu, satu orang lainnya mengalami luka serius setelah nekat melompat dari dalam toko demi menyelamatkan diri.
Juru Bicara Basarnas Sulawesi Utara, Nuriadin Gumeleng, membenarkan insiden tersebut. “Korban meninggal sudah dievakuasi ke rumah sakit, sementara satu korban lainnya mengalami patah kaki akibat panik saat gempa,” ujarnya.
Hingga kini, tim penyelamat masih terus menyisir lokasi untuk memastikan tidak ada korban lain yang belum terdata di tengah situasi yang masih belum sepenuhnya kondusif.
Gempa terjadi sekitar pukul 06.48 WITA, dengan pusat berada di laut pada kedalaman 62 kilometer. Getarannya terasa kuat di berbagai wilayah, terutama di Manado, memicu warga berhamburan keluar rumah dan bangunan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) segera mengeluarkan peringatan dini tsunami tak lama setelah gempa terjadi. Sejumlah wilayah di Sulawesi Utara dan Maluku Utara pun masuk dalam status siaga hingga waspada.
Beberapa daerah seperti Ternate, Halmahera, Tidore, hingga Bitung masuk kategori siaga tsunami, sementara wilayah lain seperti Kepulauan Sangihe dan sebagian Minahasa berada dalam status waspada.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tidak lengah. Warga di wilayah siaga diminta segera melakukan evakuasi, sedangkan daerah waspada diminta menjauh dari pesisir pantai dan aliran sungai.
Peristiwa ini menjadi pengingat keras akan potensi bencana alam di kawasan timur Indonesia yang berada di jalur cincin api. Dalam hitungan detik, situasi bisa berubah drastis dari rutinitas pagi menjadi momen penuh kepanikan dan perjuangan untuk selamat.



