Fajarnews.co,Kutai Kartanegara – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Kutai memiliki sejumlah kebiasaan yang masih dijaga hingga kini. Tradisi tersebut umumnya dilakukan secara personal dalam lingkup keluarga, tanpa perayaan massal, namun sarat makna spiritual.
Budayawan Kalimantan Timur, Awang M. Rifani, menjelaskan bahwa secara umum masyarakat Kutai kerap dikelompokkan sebagai Melayu karena mayoritas memeluk agama Islam. Padahal secara kultural, Kutai memiliki kedekatan dengan Dayak.
“Secara etnik sebenarnya tidak jauh berbeda. Namun karena mayoritas orang Kutai beragama Islam, kemudian dikelompokkan sebagai Melayu. Sementara yang non-Muslim sering dipolarisasi sebagai Dayak,” ujarnya.
Ia menambahkan, masuknya Islam ke Kutai turut membawa pengaruh budaya dari luar, terutama dari Sulawesi. Interaksi dengan berbagai suku di Nusantara membentuk corak budaya Kutai yang dikenal saat ini.
Dalam menyambut Ramadan, kebiasaan yang paling umum dilakukan adalah membersihkan rumah serta mandi sebagai simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan ibadah. Selain itu, sebagian keluarga juga melakukan ziarah kubur dan membaca doa haul bagi keluarga yang telah meninggal dunia.
“Biasanya masing-masing keluarga melakukan ziarah dan doa untuk orang tua atau leluhur yang sudah meninggal,” katanya.
Salah satu tradisi khas yang dikenal dalam masyarakat Kutai adalah “Megang”, yang dilakukan pada malam menjelang penetapan 1 Ramadan.
Dalam praktiknya, sebuah piring diisi dengan sejumput beras, sirih yang telah diberi kapur dan gambir, serta pinang yang dilipat rapi. Di bagian tengahnya diletakkan lilin. Piring tersebut kemudian ditempatkan di depan pintu utama rumah dan di depan pintu kamar. Saat malam tiba, lilin dinyalakan dan dibiarkan menyala hingga habis.
Menurut Awang, tradisi ini memiliki makna simbolis sebagai penerang dan penanda.
“Harapannya agar malaikat singgah ke rumah. Juga sebagai penanda bagi arwah keluarga yang sudah meninggal agar mengetahui rumahnya,” jelasnya.
Selain Megang, masyarakat Kutai tempo dulu juga memiliki kebiasaan menyalakan pelita atau lampu minyak tanah di depan rumah sebagai simbol penerangan dan harapan keberkahan. Meski kini penerangan sudah modern, sebagian keluarga masih mempertahankan tradisi tersebut sebagai bagian dari identitas budaya.
“Sekarang memang sudah lebih modern, tapi keluarga yang kuat memegang tradisi biasanya tetap melaksanakan,” pungkasnya.



