Fajarnews.co, Kenaikan harga obat yang mencapai 15 hingga 20 persen mulai berdampak pada layanan kesehatan di Kabupaten Tangerang, Banten. Lonjakan biaya tersebut dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menyebabkan harga bahan baku farmasi impor ikut meningkat.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, mengatakan industri obat dalam negeri masih bergantung pada bahan baku dari luar negeri. Kondisi itu membuat harga obat sangat sensitif terhadap perubahan kurs dan tekanan inflasi.
Selain pelemahan rupiah, kenaikan harga bahan bakar juga disebut ikut mendorong meningkatnya biaya produksi dan distribusi obat di berbagai daerah.
Dampak kenaikan harga tersebut mulai dirasakan fasilitas kesehatan milik pemerintah. Sejumlah puskesmas dan layanan kesehatan terpaksa melakukan penyesuaian dalam pemberian obat kepada pasien agar persediaan tetap tersedia untuk masyarakat yang membutuhkan.
Jika sebelumnya pasien bisa memperoleh obat untuk kebutuhan hingga 10 hari, kini sebagian layanan hanya memberikan persediaan sekitar lima hari. Kebijakan itu dilakukan sebagai langkah penghematan di tengah membengkaknya biaya pengadaan obat.
Meski demikian, pemerintah daerah memastikan program layanan kesehatan gratis tetap berjalan. Pemkab Tangerang menyatakan akan menambah alokasi anggaran kesehatan guna menutup kenaikan biaya pengadaan obat sehingga masyarakat tetap dapat mengakses layanan tanpa dipungut biaya.
Pemerintah daerah juga terus memantau perkembangan harga obat nasional. Ketergantungan terhadap bahan baku impor dinilai menjadi tantangan besar yang perlu mendapat perhatian agar pasokan dan keterjangkauan obat tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global.



