Fajarnews.co, SAMARINDA – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Timur memasuki tahap operasi udara. BPBD Kaltim bersama BNPB mengerahkan satu unit helikopter water bombing untuk memburu dan memadamkan 28 titik api yang masih aktif.
Dilansir dari antarakaltim.com, Kepala Pelaksana BPBD Kaltim Buyung Dodi Gunawan mengatakan pengerahan helikopter menjadi langkah penting karena sejumlah lokasi kebakaran sulit dijangkau tim darat. Kondisi semakin berat akibat terbatasnya sumber air di tengah musim kering.
Berdasarkan data Posko Siaga Darurat Karhutla Kaltim per 7 September 2026, tercatat 761 hotspot tersebar di berbagai wilayah Kaltim. Dari jumlah tersebut, 28 titik terkonfirmasi sebagai firespot aktif.
Kabupaten Paser menjadi wilayah dengan titik api terbanyak, yakni 13 titik, disusul Kabupaten Berau dengan 7 titik.
“Operasi udara ini menjadi langkah vital untuk memperkuat tim darat di area yang krisis air,” kata Buyung.
Operasi water bombing dipusatkan di Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto, Samarinda. Penentuan sasaran dilakukan berdasarkan koordinat titik api yang dikirimkan pemerintah kabupaten dan kota terdampak.
BPBD Kaltim juga tengah memetakan sumber air yang dapat digunakan untuk mendukung operasi pemadaman dari udara. Tim di lapangan melibatkan BPBD kabupaten/kota, Dinas Kehutanan, serta mitra dari sektor perkebunan dan kehutanan.
Kemarau Panjang Jadi Tantangan
Ancaman karhutla diperkirakan belum akan berakhir dalam waktu dekat. BPBD Kaltim menyebut kondisi kekeringan akibat fenomena El Nino berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hingga awal 2027.
Sementara itu, peluang hujan dalam waktu dekat masih terbatas. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang sempat dilakukan di sekitar kawasan IKN bahkan harus dihentikan sementara karena minimnya pertumbuhan awan konvektif.
“Potensi hujan ringan pada Oktober mendatang diperkirakan belum mampu mengatasi karhutla secara signifikan,” ujar Buyung.
Dampak kemarau juga mulai terasa pada ketersediaan air bersih. Kabupaten Paser menjadi salah satu wilayah yang menghadapi persoalan tersebut. BPBD Kaltim pun mulai menyalurkan bantuan air bersih menggunakan truk tangki kepada masyarakat terdampak.
Terkait kemungkinan adanya unsur kelalaian atau kesengajaan dalam munculnya kebakaran, BPBD menyerahkan proses penyelidikan dan penegakan hukum kepada kepolisian.
BPBD juga mengingatkan perusahaan perkebunan dan kehutanan agar tidak menunggu api membesar. Setiap kemunculan titik api di wilayah operasional diminta segera ditangani untuk mencegah kebakaran meluas.



