Fajarnews.co,Jakarta – Pelaksanaan ibadah haji 2026 resmi dimulai, dengan ratusan ribu jemaah Indonesia diberangkatkan ke Tanah Suci di Mekkah, Arab Saudi. Namun di balik kesiapan logistik dan fisik, pemerintah menyoroti satu tantangan yang kerap luput dari perhatian: kesehatan mental jemaah, terutama kelompok lanjut usia.
Kementerian Kesehatan mengungkapkan bahwa sekitar 10–15 persen jemaah haji Indonesia berpotensi mengalami gangguan psikologis selama menjalankan rangkaian ibadah. Bahkan, gangguan tidur dialami oleh hampir sepertiga jemaah akibat perubahan pola aktivitas dan ritme biologis.
Kelompok lansia menjadi yang paling rentan. Data pelayanan kesehatan haji menunjukkan sebagian besar kasus gangguan mental pada jemaah usia lanjut berkaitan dengan gejala demensia kondisi yang dapat memengaruhi daya ingat, orientasi, hingga kemampuan mengambil keputusan.
Padatnya aktivitas ibadah, suhu ekstrem yang bisa mencapai lebih dari 35 derajat Celsius, serta kepadatan jutaan jemaah dari berbagai negara menjadi kombinasi tekanan fisik dan emosional. Situasi ini kerap memicu stres, kecemasan, bahkan disorientasi, khususnya bagi mereka yang belum terbiasa dengan lingkungan baru.
Tak hanya itu, kebijakan baru pemerintah setempat seperti penggunaan aplikasi digital untuk akses layanan haji juga menjadi tantangan tersendiri, terutama bagi jemaah yang kurang akrab dengan teknologi.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Kemenkes menerapkan pendekatan yang lebih menyeluruh. Persiapan tidak hanya difokuskan pada kesehatan fisik, tetapi juga mental. Jemaah kini dibekali konseling sebelum keberangkatan, termasuk pelatihan manajemen stres dan pengaturan ekspektasi selama menjalankan ibadah.
Selain itu, praktik spiritual seperti doa dan zikir, pengaturan waktu istirahat, serta menjaga asupan cairan dan nutrisi menjadi bagian penting dari strategi menjaga stabilitas psikologis. Dukungan sosial antarjemaah juga dinilai efektif dalam meredakan tekanan mental di tengah suasana yang padat dan intens.
Di lapangan, petugas kesehatan haji juga diperkuat dengan tim khusus yang siap menangani masalah psikologis secara cepat, guna mencegah kondisi berkembang menjadi lebih serius.
Pemerintah berharap, dengan persiapan mental yang lebih matang dan pendekatan yang lebih humanis, jemaah Indonesia dapat menjalankan ibadah haji dengan lebih tenang, khusyuk, dan tetap sehat baik secara fisik maupun emosional.



