Fajarnews.co,Operasi pencarian dan evakuasi helikopter Airbus H130 PK-CFX di wilayah Nanga Kiungkang, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, berlangsung dramatis di tengah medan ekstrem. Tim Basarnas tiba di lokasi kejadian perkara (LKP) sekitar pukul 19.00 WIB, Rabu (16/4), dan langsung dihadapkan pada kondisi yang menantang.
Dari pengamatan awal, tim darat menemukan jejak sapuan baling-baling helikopter yang membentang sekitar 500 meter di lereng bukit. Jejak tersebut menunjukkan arah hantaman yang menukik tajam dari bawah ke atas sebelum akhirnya badan helikopter ditemukan menempel di dinding Bukit Puntak dengan kemiringan sekitar 65 derajat.
Di lokasi tersebut, tujuh korban ditemukan dalam kondisi terjepit di dalam badan helikopter yang ringsek. Sementara satu korban lainnya terlempar keluar dan tersangkut di pohon, hanya berjarak sekitar satu meter dari bangkai pesawat. Seluruh korban dipastikan meninggal dunia di tempat.
Meski kondisi medan curam dan gelapnya malam menyulitkan proses evakuasi, tim gabungan tetap bekerja tanpa henti. Pada pukul 22.03 WIB, seluruh korban akhirnya berhasil dievakuasi dari titik jatuhnya helikopter. Identifikasi awal langsung dilakukan di lokasi oleh pihak perusahaan pada malam itu juga.
Jenazah kemudian dibawa secara bertahap menuju titik kumpul di puncak bukit sebelum dipindahkan ke posko utama. Setelah perjalanan yang memakan waktu berjam-jam, seluruh korban tiba di posko pada Kamis (17/4) pukul 06.00 WIB.
Selanjutnya, jenazah dibawa menggunakan ambulans menuju fasilitas militer di 642 Kapuas, Sanggau. Proses evakuasi berlanjut dengan dukungan udara, di mana pada pukul 09.15 WIB helikopter Super Puma diterjunkan untuk menjemput para korban.
Seluruh jenazah kemudian diterbangkan menuju Bandara Supadio, Pontianak, dengan durasi penerbangan sekitar 40 menit. Dari sana, korban dibawa ke RS Bhayangkara Pontianak untuk proses identifikasi lanjutan.
Operasi ini menjadi gambaran nyata beratnya medan yang harus dihadapi tim penyelamat, sekaligus menunjukkan koordinasi intensif antarinstansi dalam menangani tragedi penerbangan di wilayah terpencil.



