Fajarnews.co,Menanggapi sorotan publik tersebut, Kepala Teknik Tambang (KTT) PT Supra Bara Energi (SBE), Hendra Yulmi, menyampaikan bahwa perusahaan saat ini memprioritaskan percepatan proses penutupan lubang tambang di area Pit 55.
Ia menjelaskan, upaya penutupan dilakukan secara intensif dengan mengerahkan 17 unit alat berat berkapasitas besar, yakni dump truck tipe HD 777 dan 785, guna mempercepat pekerjaan penimbunan.
“Pada tahap awal, kami menargetkan penyelesaian pada Agustus 2026. Seluruh area akan ditutup penuh melalui metode backfilling hingga elevasi +5 meter di atas permukaan laut, dengan benteng horizontal selebar 500 meter. Dengan begitu, tidak akan ada lagi lubang terbuka di lokasi tersebut,” ujar Hendra.
Selain kegiatan penimbunan, PT SBE juga membeberkan langkah teknis lain yang tidak tampak dalam rekaman video viral yang diambil dari udara. Perusahaan telah melakukan pekerjaan grouting atau injeksi semen ke dalam tanah sebagai langkah penguatan dan penguncian kestabilan lereng yang berbatasan langsung dengan aliran sungai.
Proses grouting dilakukan dengan cara menyuntikkan semen ke dalam tanah hingga kedalaman 50 meter pada setiap titik. Secara keseluruhan, terdapat 120 titik injeksi yang membentang sepanjang 500 meter di area yang sebelumnya terindikasi mengalami retakan.
“Selain itu, dinding tambang terus dibentuk berjenjang atau benching untuk menjaga kestabilan lereng. Berdasarkan hasil pemantauan terakhir, kondisi area dinyatakan stabil dan tidak ditemukan lagi tanda-tanda pergerakan tanah,” ungkap manajemen PT SBE.
Sementara itu, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur, Bambang Arwanto, yang melakukan peninjauan langsung ke lokasi Pit 55, menyebut telah terjadi perkembangan signifikan dalam proses penutupan lubang tambang tersebut. Menurutnya, elevasi timbunan telah meningkat sekitar 40 meter dari titik terdalam.
“Kami turun langsung untuk memastikan arahan Kepala Inspektur Tambang Kementerian ESDM dijalankan oleh PT SBE. Dari hasil peninjauan, terlihat proses penimbunan dari bibir sungai sejauh 500 meter sedang berlangsung,” kata Bambang.
Bambang berharap penjelasan teknis yang disampaikan dapat meredam kekhawatiran masyarakat terkait potensi bencana lingkungan. Ia menegaskan bahwa sejumlah langkah mitigasi telah dan sedang dilaksanakan oleh perusahaan.
“Penerapan grouting dan pembuatan drainhole merupakan bagian dari upaya teknis untuk melindungi badan sungai. Ini menunjukkan bahwa langkah mitigasi terhadap risiko yang dikhawatirkan publik sebenarnya sudah dilakukan,” tutupnya.
Sumber :Liputan6



