Fajarnews.co, Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) mengajak generasi muda memahami peran transportasi publik dalam menghadapi persoalan lingkungan perkotaan. Edukasi tersebut dilakukan melalui program Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda (KELANA) Edisi Ketiga.
Sebanyak 13 pelajar SMA dari sejumlah sekolah di Jabodetabek mengikuti kegiatan yang digelar Kamis (6/8/2026). Mereka mengunjungi Depo MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, serta melihat area pembangunan MRT Fase Kedua di kawasan Silang Monas, Jakarta Pusat.
Kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan pembelajaran langsung. Para peserta melihat bagaimana sistem transportasi massal dapat mendukung pengurangan emisi, menekan penggunaan kendaraan pribadi, serta membantu menciptakan tata kota yang lebih berkelanjutan.
Di Depo Lebak Bulus, peserta mendapat penjelasan mengenai sistem operasional MRT, termasuk penggunaan listrik sebagai sumber energi dan teknologi Communication Based Train Control (CBTC).
MRT Jakarta juga memiliki tingkat ketepatan waktu lebih dari 99 persen. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan daya tarik transportasi publik sekaligus mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi.
“MRT adalah kerja sama government to government antara Jepang dan Indonesia. Kita ingin mencontoh standar dan kualitas Jepang yang baik dalam pengelolaan transportasi kereta api di dunia, termasuk kedisiplinannya,” jelas Head of Corporate Communication and Branding Department PT MRT Jakarta (Perseroda), Angga Satria Perdana.
Ketua Kelompok Kerja Komunikasi, Informasi, dan Edukasi Biro Humas KLH/BPLH Romi Setiawan mengatakan KELANA memberikan kesempatan kepada pelajar untuk melihat langsung penerapan konsep pembangunan berkelanjutan.
“KELANA adalah Kenali Lingkungan Bareng Anak Muda yang tujuannya ingin memberikan pengalaman langsung kepada anak muda mengenai proyek-proyek berkelanjutan di Indonesia, salah satunya adalah MRT. Di sini kita belajar bahwa Jakarta memiliki transportasi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan serta menjadi representasi pengembangan transportasi umum di Indonesia,” ujar Romi.
Peserta juga diperkenalkan dengan konsep Transit Oriented Development (TOD). Konsep ini mengintegrasikan transportasi massal dengan kawasan hunian, fasilitas publik, ruang terbuka, dan jalur pejalan kaki.
Penerapan TOD diharapkan dapat mengurangi dampak lingkungan melalui integrasi berbagai moda transportasi. Pengembangan kawasan tersebut juga diarahkan untuk meningkatkan kualitas ruang kota dan memperkuat ketahanan infrastruktur menghadapi perubahan iklim.
Saat mengunjungi proyek MRT Fase Kedua di Silang Monas, para pelajar melihat proses pembangunan infrastruktur transportasi bawah tanah dan penerapan prinsip pembangunan berkelanjutan dalam proyek tersebut.
Putri Indonesia Lingkungan 2026, Victoria Titisari Kosasieputri, yang ikut dalam kegiatan tersebut, menilai edukasi lingkungan bagi anak muda perlu disertai pengalaman langsung.
“Menurut saya program seperti Kelana ini sangat penting karena generasi muda itu harus diajak untuk peduli akan lingkungan dan sustainability karena climate crisis dan global warming, so now is the time to act,” kata Victoria.
Program KELANA juga mengangkat tema “KELANA Java Overtrip”. Peserta tidak hanya mempelajari transportasi publik, tetapi juga mendapatkan wawasan mengenai persoalan sampah dan pengelolaan limbah di perkotaan.
Para pelajar kemudian didorong mengolah pengalaman mereka menjadi konten digital yang dapat memberikan edukasi kepada masyarakat.
“Apa yang bisa dibagikan adalah aku bisa membagikan konten-konten kemudian aku bisa membagikan kepada teman-teman bagaimana kita sebagai generasi muda bisa mengolah sampah menuju ke Indonesia yang bersih di kemudian hari,” ungkap Sheikha Lana, peserta dari SMA Negeri 1 Depok.
KLH/BPLH berharap kegiatan tersebut dapat mendorong anak muda menjadi bagian dari perubahan perilaku masyarakat. Mereka diharapkan mampu memahami manfaat transportasi publik sekaligus menyebarkan pengetahuan mengenai gaya hidup yang lebih ramah lingkungan.



