Gunung Semeru Kembali Erupsi Dua Kali, Kolom Abu Capai 1 Kilometer

redaksi

Fajarnews.co, CNN Indonesia Lumajang – Aktivitas vulkanik Gunung Semeru di Jawa Timur kembali meningkat pada Jumat pagi (20/3), dengan dua kali letusan yang menghasilkan kolom abu cukup tinggi. Gunung tertinggi di Pulau Jawa ini masih menunjukkan aktivitas erupsi yang signifikan menjelang periode libur Lebaran.

Letusan pertama terjadi sekitar pukul 05.26 WIB dengan kolom abu terpantau mencapai kurang lebih 1.000 meter di atas puncak. Asap berwarna kelabu dengan intensitas tebal terlihat bergerak ke arah timur laut. Saat pengamatan dilakukan, aktivitas erupsi dilaporkan masih berlangsung.

Tidak lama berselang, erupsi kedua terjadi pada pukul 06.40 WIB. Pada kejadian ini, tinggi kolom abu teramati sekitar 500 meter di atas puncak. Warna asap bervariasi dari putih hingga kelabu dan bergerak ke arah utara. Data seismograf mencatat amplitudo maksimum 22 mm dengan durasi letusan mencapai lebih dari dua menit.

Saat ini, status Gunung Semeru masih berada pada Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan sejumlah imbauan untuk mengurangi risiko bagi masyarakat di sekitar kawasan gunung.

Warga diminta untuk tidak beraktivitas di sektor tenggara, khususnya di sepanjang aliran Besuk Kobokan hingga radius 13 kilometer dari pusat erupsi. Selain itu, area sejauh 500 meter dari tepi sungai di jalur tersebut juga harus dihindari karena berpotensi dilanda awan panas dan aliran lahar yang bisa menjangkau hingga 17 kilometer.

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mendekati radius lima kilometer dari kawah atau puncak gunung karena adanya risiko lontaran material pijar.

PVMBG menekankan potensi bahaya lanjutan seperti guguran lava, awan panas, serta banjir lahar di sejumlah aliran sungai yang berhulu di Semeru, termasuk Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat.

Dengan meningkatnya aktivitas ini, warga dan wisatawan diimbau tetap waspada dan mematuhi seluruh rekomendasi resmi guna menghindari risiko bencana.

Related Post

Tinggalkan komentar