Fajarnews.co, Kutai Kartanegara – Ruang alternatif bagi penikmat film lokal kembali bergeliat. Komunitas Pelem Indie (KOPI) Tenggarong menggelar agenda pemutaran dan diskusi film dalam tajuk “Tayang-Tayangan Vol.19, Screening dan Bekesahan Pelem” pada Jumat (27/02/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung di Haha Cafe, Jalan Patin, ini menghadirkan sejumlah karya sineas Kutai Kartanegara dan disambut antusias peserta dari berbagai kalangan.
Sejak awal acara, suasana kafe dipenuhi penonton yang datang tidak hanya dari kalangan pegiat film, tetapi juga masyarakat umum yang ingin menikmati tontonan berbasis lokal. Setelah pemutaran, kegiatan berlanjut dengan diskusi terbuka yang membedah isi film, proses kreatif, hingga capaian karya yang telah diraih.
Pelaku Komunitas Film Kutai Kartanegara, Rendo, menyebut kegiatan tersebut telah beberapa kali digelar dan menunjukkan perkembangan positif. Menurutnya, penyelenggaraan kini tidak lagi terpaku pada satu lokasi, melainkan mulai berpindah tempat.
“Sekarang sudah mulai digelar di tempat berbeda. Harapannya ke depan bisa terus bergeser, bahkan tidak hanya di Tenggarong saja,” ujarnya.
Ia menilai antusiasme penonton juga mengalami peningkatan dibanding masa awal komunitas bergerak. Jika sebelumnya pemutaran hanya berlangsung di ruang kecil dengan peserta terbatas, kini masyarakat umum mulai terlibat sebagai penonton aktif.
Menurut Rendo, film-film yang ditayangkan seluruhnya merupakan karya sineas Kukar. Hal itu dinilai penting untuk menjaga identitas lokal sekaligus memelihara kecintaan masyarakat terhadap film daerah.
Lebih jauh, ia berharap pemutaran film tidak hanya terpusat di Tenggarong. Kecamatan lain seperti Loa Kulu, Loa Janan, Kota Bangun hingga wilayah hulu dinilai memiliki potensi menjadi ruang baru bagi pertumbuhan ekosistem perfilman Kukar.
Selain perluasan lokasi, komunitas juga mendorong penguatan jejaring dengan komunitas film di daerah lain. Rendo menyebut sejumlah film karya sineas Kukar pernah meraih penghargaan di Yogyakarta dan diputar di Bali, bahkan sempat mendapat peluang tayang di Australia.
“Tadi ada film yang sudah lama, tapi pernah menang di Jogja dan diputar di Bali. Itu bukti kualitas film lokal kita sebenarnya sudah layak bersaing,” katanya.
Melalui kegiatan rutin ini, komunitas film Kukar berharap layar alternatif terus menyala dan menjadi ruang tumbuh bagi karya-karya lokal, sekaligus memperluas jangkauan apresiasi film di seluruh wilayah Kutai Kartanegara.



