Infrastruktur Terbatas, Siswa di Kukar Andalkan Katrol Manual ke Sekolah

redaksi

Fajarnews.co, Kutai Kartanegara — Perjalanan menuju sekolah masih menjadi tantangan bagi sejumlah pelajar di Desa Santan Ulu, Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Hingga kini, anak-anak di Dusun Damai belum memiliki jembatan permanen untuk menyeberangi sungai yang memisahkan permukiman dengan sekolah mereka.

Sebagai jalan keluar sementara, warga membangun kereta gantung sederhana dengan sistem katrol manual. Fasilitas swadaya itu telah digunakan sekitar dua hingga tiga tahun terakhir dan menjadi akses utama siswa menuju SD 021 dan SD 024.

Kepala Desa Santan Ulu, Heri Budianto, mengatakan usulan pembangunan jembatan permanen sudah beberapa kali diajukan ke pemerintah daerah. Namun, hingga kini belum ada kepastian realisasi anggaran.

Menurutnya, terdapat dua titik infrastruktur yang mendesak diperbaiki. Selain akses penyeberangan di RT 009 Dusun Damai yang mengandalkan kereta gantung, jembatan di RT 16 juga dilaporkan dalam kondisi rusak dan kerap dilintasi kendaraan warga menuju tempat ibadah.

Di Desa Santan Ulu, sedikitnya terdapat lima unit kereta gantung serupa yang tersebar di sejumlah titik sungai. Selain dipakai pelajar, sarana tersebut dimanfaatkan warga untuk mengakses kebun dan mengangkut hasil panen. Pengoperasiannya dilakukan secara gotong royong oleh relawan desa dengan dukungan pembiayaan dari Alokasi Dana Desa (ADD).

Pemerintah desa menyebut prioritas utama penggunaan fasilitas tersebut tetap untuk anak sekolah demi memastikan kegiatan belajar tetap berjalan. Meski demikian, aspek keselamatan menjadi perhatian karena sarana yang digunakan masih bersifat darurat.

Kondisi ini sebelumnya sempat ditinjau oleh pemerintah daerah, termasuk pendataan kebutuhan jembatan oleh dinas terkait. Namun sampai saat ini belum ada pembangunan fisik yang terealisasi.

Warga berharap pemerintah daerah maupun pusat dapat segera mengambil langkah konkret agar akses pendidikan yang aman dan layak bisa dinikmati pelajar di wilayah tersebut. Situasi ini kembali menyoroti tantangan pemerataan infrastruktur dasar di kawasan pedesaan, terutama yang berkaitan langsung dengan keselamatan anak-anak.

Related Post

Tinggalkan komentar