Fajarnews.co, Korban meninggal dunia akibat banjir bandang dan tanah longsor di wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, terus bertambah. Hingga Kamis (27/8/2026), sedikitnya 150 orang dilaporkan tewas.
Polisi Nepal menyebut sejumlah jenazah ditemukan di beberapa wilayah terdampak, antara lain Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Chitwan, Gorkha, Tanahun, dan Nawalparasi East.
Selain korban meninggal, sebanyak 384 orang masih dinyatakan hilang. Dari jumlah tersebut, 291 orang merupakan warga negara asing (WNA), sedangkan 93 lainnya merupakan warga Nepal.
Bencana banjir bandang dan longsor terjadi pada Rabu (26/8/2026) di kawasan pegunungan yang berada di perbatasan Nepal dan Tibet.
Pada awalnya, bencana tersebut diduga berkaitan dengan gempa bumi yang disebut memicu longsoran es dan batuan ke Sungai Lhende Khola. Sungai tersebut mengalir melewati wilayah Nepal dan Tibet.
Namun, analisis Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) kemudian menunjukkan tidak ditemukan aktivitas gempa sebelum terjadinya longsor dan banjir bandang.
Pemerintah Nepal langsung mengerahkan personel militer, kepolisian, helikopter, serta tim medis untuk melakukan pencarian dan penanganan korban di lokasi bencana.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah memerintahkan pengerahan seluruh sumber daya yang tersedia untuk mempercepat proses evakuasi dan pencarian warga yang masih hilang.
Sementara itu, Presiden China Xi Jinping juga meminta upaya pencarian korban dilakukan secara maksimal. Pemerintah China turut meningkatkan pemantauan untuk mengantisipasi kemungkinan bencana susulan di kawasan perbatasan.
Sedikitnya 574 petugas penyelamat China telah dikerahkan ke wilayah perbatasan darat Gyirong untuk membantu operasi pencarian dan penanganan dampak bencana.
Tim gabungan kini masih melakukan pencarian terhadap ratusan orang yang belum ditemukan. Kondisi medan pegunungan dan potensi bencana susulan menjadi tantangan dalam proses penyelamatan.



