Fajarnews – Iran kembali menggetarkan geopolitik global setelah mengancam akan menutup Selat Hormuz, jalur strategis ekspor minyak dunia. Ancaman ini dilayangkan sebagai balasan atas serangan Amerika Serikat terhadap tiga situs nuklir Iran: Fordow, Natanz, dan Isfahan. Ketegangan ini membuka risiko krisis energi skala global.
Pada Minggu, 22 Juni 2025, Parlemen Iran telah menyetujui rencana penutupan penuh Selat Hormuz. Keputusan akhir kini tinggal menunggu persetujuan dari Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Jika skenario ini terealisasi, maka pasar minyak global dipastikan bergejolak hebat.
Menurut data Badan Informasi Energi AS (EIA), Selat Hormuz dilalui sekitar 20,5 juta barel minyak setiap harinya. Jalur sempit ini menjadi titik vital karena mewakili sepertiga perdagangan minyak dunia. Tanpa jalur ini, distribusi energi global akan terganggu parah.
Tiga negara yang diperkirakan paling terdampak adalah India, China, dan Jepang. Ketiganya sangat bergantung pada minyak dari kawasan Teluk yang diekspor lewat Selat Hormuz. Ketergantungan inilah yang membuat mereka sangat rentan terhadap guncangan pasokan.
India bisa mengalami inflasi hebat dan lonjakan harga bahan bakar karena lebih dari 60% minyak impornya melewati selat tersebut. “Jika pasokan energi terganggu bahkan hanya seminggu, sektor penerbangan dan manufaktur India bisa lumpuh,” tulis The Hindu Business Line. Selain itu, cadangan minyak strategis India hanya cukup untuk 30 hari.
China juga menghadapi ancaman besar jika jalur ini ditutup, karena 42% pasokan minyaknya berasal dari kawasan Teluk. South China Morning Post menyebutkan bahwa penutupan Selat Hormuz akan memicu krisis energi, gangguan rantai pasok, hingga potensi kerusuhan sosial. Pemerintah China mungkin terpaksa membatasi konsumsi industri dan mengambil langkah diplomatik agresif.
Jepang tak kalah genting, karena 90% lebih pasokan minyak dan LNG-nya berasal dari Timur Tengah. Laporan Nikkei Asia menyebutkan, “Jika ditutup, itu sama artinya Jepang kehilangan oksigen.” Sektor listrik, transportasi, dan manufaktur Jepang akan mengalami gangguan luas jika selat ini benar-benar ditutup.
Meski Amerika Serikat terdampak, posisi mereka relatif aman karena sejak 2019 menjadi net-exporter energi. Dengan cadangan strategis lebih dari 370 juta barel, AS bisa mengatasi krisis dalam negeri. Namun harga BBM tetap berisiko naik dan memicu inflasi akibat keterkaitan pasar global.
Negara-negara Teluk juga akan sangat dirugikan. Meski memiliki pipa alternatif seperti Petroline dan Habshan-Fujairah, kapasitasnya jauh dari cukup untuk menggantikan ekspor via Selat Hormuz. Akibatnya, pendapatan negara bisa anjlok, dan stabilitas politik mereka ikut terancam.
Sumber : https://international.sindonews.com/read/1583859/43/3-negara-paling-sengsara-jika-iran-tutup-selat-hormuz-2-di-antaranya-punya-bom-nuklir-1750666010/24
Penulis : Arnelya NL



