Kebakaran 153 Hektare di Kukar Diduga Dipicu Pembakaran Sampah dan Lahan

redaksi

Fajarnews.co, TENGGARONG – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kutai Kartanegara (Kukar). Sebanyak 153 hektare lahan di Kecamatan Muara Badak dan Muara Jawa terbakar pada 5 Agustus 2026.

Dilansir dari korankaltim.co, Luas lahan yang terbakar tersebar di dua titik. Sekitar 70 hektare berada di Jalan Poros Muara Badak-Marangkayu, Desa Tanjung Limau, Kecamatan Muara Badak. Sementara 83 hektare lainnya berada di kawasan Kelurahan Dondang hingga Muara Kembang, Kecamatan Muara Jawa.

Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkar Matan) Kukar Fida Hurasani mengatakan, kebakaran diduga berkaitan dengan aktivitas warga yang membakar sampah atau membersihkan lahan menggunakan api tanpa pengawasan.

“Dari laporan yang kami dapat, diduga adanya pembakaran yang disengaja. Entah itu dari pembakaran sampah kecil atau pembersihan lahan pribadi yang apinya tidak dikontrol sampai menjalar dan di luar kendali. Apalagi lahan di sana adalah gambut,” kata Fida, Senin (7/9/2026).

Kondisi lahan gambut membuat kebakaran semakin sulit dikendalikan. Vegetasi yang mengering membuat api mudah menyebar, sementara bara dapat menjalar ke lapisan bawah tanah dan kembali memunculkan titik api.

Di Muara Badak, laporan kebakaran diterima petugas sekitar pukul 12.26 WITA. Api diketahui sudah mendekati kawasan permukiman warga.

Sebanyak 13 personel Disdamkar Kukar kemudian dikerahkan bersama empat anggota Masyarakat Peduli Api (MPA), relawan, dan warga. Pemadaman berlangsung mulai pukul 13.10 hingga 20.06 WITA.

Petugas menerapkan metode penyekatan dan pemblokiran untuk menahan pergerakan api agar tidak semakin dekat dengan rumah warga.

“Pemadaman di wilayah itu cukup lama dan areanya cukup besar,” ujar Fida.

Sementara di Muara Jawa, laporan dari masyarakat diterima sekitar pukul 15.41 WITA. Tim gabungan langsung menuju lokasi untuk melakukan pemadaman hingga tahap pendinginan.

“Dalam peristiwa ini kami bagi tim ada yang menyebar di Muara Jawa dan Muara Badak, dibantu dengan relawan dan masyarakat sekitar,” katanya.

Upaya pemadaman menghadapi sejumlah kendala. Angin kencang membuat api lebih cepat merambat, sedangkan kondisi lahan gambut menghasilkan asap tebal yang menyulitkan petugas bekerja.

Beban pemadaman juga membuat sejumlah personel mengalami kelelahan. Meski demikian, seluruh anggota tetap dapat menyelesaikan tugas tanpa ada yang harus menjalani perawatan di rumah sakit.

“Kondisi anggota kelelahan dan badan mulai terasa tidak fit, tapi bersyukur tidak ada yang tumbang dan masuk ke rumah sakit saat proses pemadaman berlangsung,” ucap Fida.

Respons cepat tim gabungan akhirnya berhasil mencegah kobaran api menjangkau permukiman warga. Peristiwa tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa aktivitas pembakaran lahan dalam skala kecil dapat berkembang menjadi kebakaran yang jauh lebih luas, terutama di kawasan gambut.

Disdamkar Kukar mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan maupun membakar sampah. Pengawasan ketat diperlukan jika terdapat aktivitas yang berpotensi menimbulkan api, terlebih saat kondisi lahan kering.

“Kasus ini jadi peringatan keras betapa satu puntung rokok atau pembakaran sampah kecil bisa berdampak fatal pada kerusakan lingkungan skala besar,” tutup Fida.

Related Post

Tinggalkan komentar