Rupiah Dibuka Tertekan ke Rp17.987 per Dolar AS, Sentimen The Fed Masih Membayangi

redaksi

Fajarnews.co, Nilai tukar rupiah memulai perdagangan Jumat (26/6) dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat. Mata uang Indonesia dibuka di level Rp17.987 per dolar AS, turun 44 poin atau sekitar 0,25 persen dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.

Tekanan terhadap rupiah terjadi di tengah pergerakan beragam mata uang kawasan Asia. Sejumlah mata uang mencatat penguatan terhadap dolar AS, seperti ringgit Malaysia, peso Filipina, dan dolar Hong Kong.

Di sisi lain, beberapa mata uang regional justru mengalami pelemahan, di antaranya won Korea Selatan, dolar Singapura, yen Jepang, serta yuan China yang terkoreksi tipis pada awal perdagangan.

Pergerakan serupa juga terlihat di kelompok mata uang utama dunia. Dolar Kanada menjadi satu-satunya yang berhasil menguat terhadap dolar AS, sementara dolar Australia, euro, franc Swiss, dan poundsterling Inggris bergerak di zona merah.

Analis mata uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh menguatnya dolar AS setelah rilis data ekonomi Amerika Serikat.

Menurutnya, kenaikan inflasi inti yang tercermin dalam indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) memicu ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter yang ketat lebih lama. Pernyataan sejumlah pejabat bank sentral AS yang bernada hawkish turut memperkuat sentimen tersebut.

Kondisi itu membuat permintaan terhadap dolar AS tetap tinggi sehingga memberi tekanan pada mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp17.900 hingga Rp18.050 per dolar AS, seiring pelaku pasar mencermati perkembangan kebijakan suku bunga Amerika Serikat serta data ekonomi global yang akan dirilis dalam waktu dekat.

Related Post

Tinggalkan komentar