Tak Merata, Layanan Air Bersih di Kukar Masih Hadapi Banyak Tantangan

redaksi

Fajarnews.co,Kutai Kartanegara, Minggu (26/04/2026) – Pemerataan layanan air bersih di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih menjadi pekerjaan rumah besar. Dari total 20 kecamatan yang dilayani, belum semuanya dapat menikmati distribusi air secara optimal karena kendala geografis hingga keterbatasan sumber air baku.

Direktur Utama Perumda Tirta Mahakam Kukar, Suparno, mengakui setiap wilayah memiliki persoalan berbeda dalam pemenuhan kebutuhan air bersih.

“Setiap kecamatan itu tantangannya berbeda-beda. Kondisi geografis Kukar ini tidak sama, penduduknya juga tersebar, jadi tidak bisa disamakan penanganannya,” ujarnya.

Salah satu wilayah yang menjadi perhatian adalah Kecamatan Muara Jawa yang hingga kini mengalami keterbatasan sumber air baku. Tidak adanya sungai maupun danau membuat wilayah tersebut bergantung pada sumur dalam, yang kapasitasnya terbatas.

“Muara Jawa ini memang krisis air. Sumber air permukaan tidak ada, sehingga hanya mengandalkan sumur dalam, itu pun terbatas,” jelasnya.

Sebagai solusi, Perumda Tirta Mahakam merencanakan integrasi jaringan distribusi dengan wilayah Samboja yang memiliki potensi sumber air dari Sungai Merdeka dan waduk.

“Rencananya jaringan Muara Jawa akan diintegrasikan dengan Samboja agar bisa saling menyuplai. Itu salah satu solusi yang paling memungkinkan,” tambahnya.

Namun, rencana tersebut membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Diperkirakan kebutuhan pembiayaan untuk integrasi jaringan mencapai puluhan miliar rupiah dan memerlukan dukungan pemerintah daerah.

Selain Muara Jawa, wilayah lain seperti Marangkayu juga menghadapi persoalan serupa terkait keterbatasan sumber air. Ke depan, pengembangan sistem penyediaan air minum (SPAM) regional melalui Waduk Marangkayu disebut menjadi salah satu alternatif jangka panjang.

“Kalau SPAM regional Waduk Marangkayu itu memang kewenangan provinsi. Tapi itu penting untuk mendukung layanan air di beberapa wilayah, termasuk Kukar,” katanya.

Suparno juga menyoroti tantangan lain berupa penurunan kualitas sumber air baku serta potensi kemarau panjang yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memperberat upaya pemenuhan kebutuhan air bersih, terutama di wilayah yang tidak terhubung langsung dengan Sungai Mahakam.

Meski demikian, pihaknya memastikan akan terus melakukan upaya perencanaan dan pengembangan jaringan secara bertahap, serta memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah melalui dinas terkait.

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada sinergi dengan pemerintah daerah untuk memperluas layanan, supaya masyarakat di 20 kecamatan bisa terlayani dengan baik,” tutupnya.

Related Post

Tinggalkan komentar