Aksi Mahasiswa di Samarinda Dinilai Cerminkan Kedewasaan Publik

redaksi

Fajarnews.co,SAMARINDA, Rabu (22/04/2026) – Aksi mahasiswa yang berlangsung di Kota Samarinda pada 21 April 2026 mendapat apresiasi dari kalangan akademisi. Demonstrasi tersebut dinilai berjalan kondusif dan mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi di ruang publik.

Ahli bahasa sekaligus praktisi linguistik forensik, Ali Kusno, menilai dinamika yang terjadi dalam aksi tersebut tidak sekadar peristiwa politik biasa, melainkan menunjukkan kualitas komunikasi publik yang semakin matang.

Menurutnya, mahasiswa mampu menjaga substansi tuntutan tanpa terjebak dalam provokasi atau kepentingan di luar isu utama. “Mahasiswa menunjukkan integritas dengan tetap berada pada koridor perjuangan. Ini menjadi bukti bahwa keberanian menyampaikan aspirasi dapat dilakukan tanpa meninggalkan etika dan kesantunan,” ujarnya.

Ia juga menilai kelancaran aksi tersebut menjadi indikator bahwa masyarakat Kalimantan Timur memiliki kesadaran kolektif dalam menjaga stabilitas dan kedamaian. Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dinilai mampu merespons situasi dengan pendekatan komunikasi yang terbuka, sehingga potensi konflik dapat diminimalkan.

Meski demikian, Ali mencatat belum terjadinya dialog langsung antara mahasiswa dan pihak pemerintah hingga aksi berakhir menjadi catatan tersendiri. Ia berharap ruang dialog tetap dibuka dalam suasana yang lebih kondusif agar seluruh aspirasi yang disampaikan dapat ditindaklanjuti secara konkret.

Dalam pandangannya, meningkatnya kritik dari masyarakat bukanlah ancaman, melainkan bagian dari perkembangan kualitas sumber daya manusia di daerah. Ia menyebut masyarakat yang aktif menyampaikan pendapat menunjukkan adanya peningkatan kesadaran, pendidikan, dan kemandirian berpikir.

“Daerah dengan masyarakat kritis justru memiliki peluang lebih besar untuk berkembang, karena ada kontrol sosial terhadap kebijakan,” katanya.

Ali juga mendorong adanya evaluasi pasca-aksi, baik di lingkungan pemerintah, perguruan tinggi, maupun media. Pemerintah diminta memperkuat komunikasi dan koordinasi internal, sementara kampus diharapkan lebih aktif dalam mengawal program akademik dan kebijakan yang berkaitan dengan mahasiswa.

Di sisi lain, ia mengingatkan peran pers agar tetap berpegang pada prinsip jurnalistik, termasuk keberimbangan informasi dan kelengkapan unsur berita. Ia juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga situasi kondusif dan menghindari provokasi yang berpotensi memecah belah.

“Pembangunan membutuhkan suasana yang tenang dan kolaboratif. Kritik penting, tetapi harus disampaikan secara bertanggung jawab,” pungkasnya.

Related Post

Tinggalkan komentar