Fajarnews.coKutai Kartanegara – Di tengah pengakuan bahwa subsektor film masuk dalam tiga besar ekonomi kreatif Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), dukungan terhadap geliat perfilman daerah dinilai masih terbatas. Hal itu mencuat dalam kegiatan pemutaran dan diskusi film lokal yang digelar komunitas film di Haha Cafe, Jalan Patin, Tenggarong, Jumat (27/02/2026) malam.
Sejumlah karya sineas Kukar diputar dalam agenda tersebut. Film-film yang ditampilkan bukan hanya produksi terbaru, tetapi juga karya lama yang pernah mencatat prestasi di luar daerah. Namun, geliat itu sebagian besar masih digerakkan secara swadaya oleh komunitas.
Pelaku Komunitas Film Kutai Kartanegara, Rendo, mengakui bahwa perhatian pemerintah terhadap sektor film memang sudah ada. Hanya saja, menurutnya, dukungan tersebut belum signifikan untuk mendorong akselerasi pertumbuhan ekosistem perfilman lokal.
“Secara pengakuan, film ini masuk tiga besar subsektor ekonomi kreatif di Kukar. Artinya potensinya memang besar. Tapi memang sampai hari ini dukungan yang kami rasakan masih kecil,” ujarnya.
Meski demikian, Rendo menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya negatif. Ia justru melihat gerakan perfilman yang tumbuh dari akar rumput memiliki daya tahan lebih kuat karena dibangun dari kemandirian komunitas.
“Biarkan gerakan ini tumbuh dulu secara grassroots. Kalau sejak awal terlalu banyak disuapi, nanti ketika besar bisa jadi manja. Lebih baik kuat dulu fondasinya,” katanya.
Ia menambahkan, beberapa film karya sineas Kukar sebenarnya telah membuktikan kualitasnya. Ada yang pernah meraih penghargaan di Yogyakarta, diputar di Bali, bahkan sempat mendapat peluang tayang di Australia meski akhirnya belum terealisasi. Capaian itu menjadi bukti bahwa potensi film lokal tidak bisa dipandang sebelah mata.
Menurutnya, tantangan ke depan bukan hanya soal produksi, tetapi juga memperluas ruang tayang dan membangun jejaring lintas daerah. Selama ini, sebagian besar pemutaran masih terpusat di Tenggarong dan bergantung pada inisiatif komunitas.
Dengan posisi film sebagai salah satu subsektor unggulan ekonomi kreatif daerah, para pegiat berharap ada langkah konkret untuk memperkuat ekosistem, mulai dari fasilitas, ruang pemutaran, hingga dukungan promosi. Tanpa itu, geliat yang sudah tumbuh berisiko berjalan di tempat.
Di sisi lain, komunitas film Kukar menegaskan komitmennya untuk terus bergerak. Bagi mereka, layar alternatif yang terus menyala bukan sekadar ruang hiburan, melainkan bagian dari upaya menjaga identitas dan cerita lokal tetap hidup di tengah arus industri yang lebih besar.



