Nyeranting Bulan, Istilah Khas Kutai untuk Menanti Waktu Berbuka

redaksi

Fajarnews.co,Kutai Kartanegara, Minggu (22/02/2026) – Masyarakat Kutai didorong untuk mulai meninggalkan penggunaan istilah “ngabuburit” dalam menyebut aktivitas menunggu waktu berbuka puasa. Melalui budayawan Awang M. Rifani, Dewan Bahasa dan Sastra Kutai memperkenalkan istilah “Nyeranting Bulan” sebagai padanan yang berakar dari khazanah lokal, yang diharapkan menjadi identitas baru Ramadan di tanah Kutai sekaligus penegasan jati diri bahasa daerah di tengah derasnya pengaruh budaya luar.

Menurut Awang M. Rifani, Nyeranting Bulan berasal dari nama binatang “Seranting Bulan”, serangga yang mengeluarkan dengungan nyaring saat peralihan waktu siang ke malam. Pada masa lalu, suara tersebut menjadi semacam alarm alami bagi masyarakat Kutai untuk bersiap berbuka puasa.

“Dengung Seranting Bulan itu penanda waktu. Masyarakat dahulu menjadikannya petunjuk alami menjelang magrib,” ujarnya dalam keterangan tertulis Dewan Bahasa dan Sastra Kutai.

Ia menegaskan, penggunaan istilah ngabuburit yang berasal dari budaya Sunda dinilai kurang tepat jika terus digunakan dalam konteks kebahasaan Kutai. Dalam penjelasan bahasa Kutai, kata tersebut bahkan memiliki makna berbeda yang tidak relevan dengan aktivitas menunggu waktu berbuka.

Karena itu, ke depan istilah Nyeranting Bulan diharapkan menjadi pengganti resmi dalam percakapan, media, hingga kegiatan publik selama Ramadan di wilayah Kutai.

Sementara itu, Muhammad Rizky Raihansyah menyebut Nyeranting Bulan bukan sekadar istilah, tetapi representasi kearifan lokal masyarakat Kutai dalam menyambut Ramadan.

Ia menggambarkan, tradisi ini akan terus hidup melalui berbagai aktivitas positif menjelang berbuka, seperti berkumpul bersama keluarga, berburu kuliner khas, hingga memperbanyak ibadah.

“Nyeranting Bulan mencerminkan kebersamaan dan kesabaran. Esensinya sama dengan menunggu waktu berbuka di daerah lain, tetapi memiliki ruh budaya Kutai yang khas,” jelasnya.

Ke depan, istilah ini diproyeksikan menjadi simbol kebanggaan daerah, sekaligus pengingat bahwa bahasa dan budaya lokal tetap relevan di era modern. Dengan menghidupkan kembali kosakata warisan leluhur, masyarakat Kutai diharapkan semakin percaya diri menjaga identitasnya di tengah keberagaman budaya Nusantara.

Dewan Bahasa dan Sastra Kutai pun mendorong agar generasi muda mulai membiasakan penggunaan istilah tersebut, sehingga pada Ramadan-Ramadan berikutnya, Nyeranting Bulan tak lagi sekadar wacana, melainkan menjadi bagian utuh dari kehidupan masyarakat Kutai.

Related Post

Tinggalkan komentar