Fajarnews.co, Jakarta – Dokter spesialis penyakit dalam subspesialis hematologi onkologi medik, Jeffry Beta Tenggara, mengungkapkan bahwa penanganan kanker hati di Indonesia masih menghadapi hambatan besar. Menurutnya, kesadaran masyarakat untuk melakukan deteksi dini dan pencegahan masih tergolong rendah, sementara infeksi Hepatitis B dan C yang tidak terdiagnosis terus menjadi faktor penyumbang utama meningkatnya kasus kanker hati.
Kondisi ini membuat sebagian besar pasien baru mengetahui penyakitnya ketika sudah memasuki stadium lanjut, karena gejala awal sering kali tidak tampak jelas. Padahal, kanker hati termasuk dalam jenis kanker dengan tingkat kematian tertinggi di dunia.
Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, kanker hati berada di urutan keenam sebagai jenis kanker yang paling sering ditemukan sekaligus penyebab kematian ketiga akibat kanker di dunia. Setiap tahun tercatat lebih dari 866 ribu kasus baru dengan sekitar 758 ribu kematian. Di Indonesia sendiri, penyakit ini menempati posisi serupa dengan lebih dari 23 ribu kasus baru dan lebih dari 23 ribu kematian setiap tahunnya. Angka harapan hidup lima tahun pasien pun masih sangat rendah, hanya sekitar 1,7 persen.
Jeffry menegaskan pentingnya langkah pencegahan sejak dini, termasuk vaksinasi Hepatitis B serta pemeriksaan fungsi hati secara berkala. Ia menjelaskan bahwa kanker hati terbagi menjadi dua jenis utama, yaitu primer dan sekunder, dengan jenis hepatocellular carcinoma (HCC) sebagai yang paling banyak ditemukan, mencapai 85–90 persen dari seluruh kasus kanker hati primer.
Penyakit ini sering tidak menimbulkan gejala pada tahap awal, sehingga deteksi dini menjadi sangat sulit. Faktor risiko seperti infeksi Hepatitis kronis, sirosis, dan perlemakan hati masih banyak ditemukan di masyarakat. “Upaya deteksi dini, vaksinasi, serta pemeriksaan fungsi hati secara rutin perlu terus digalakkan agar beban penyakit ini bisa ditekan,” ujarnya dalam temu media bersama AstraZeneca Indonesia di Jakarta, Kamis (23/10/2025).
Jeffry menambahkan, hati memiliki fungsi vital dalam metabolisme, detoksifikasi, serta penyimpanan energi tubuh. Gangguan pada organ ini dapat berdampak luas terhadap daya tahan tubuh hingga sistem metabolik. “Menjaga kesehatan hati adalah hal yang sangat penting karena kerusakan berulang bisa menimbulkan jaringan parut dan berkembang menjadi kanker,” tuturnya.
Ia juga menjelaskan bahwa terapi untuk pasien harus disesuaikan dengan kondisi masing-masing, termasuk adanya penyakit penyerta atau risiko perdarahan yang dapat memengaruhi respons terhadap pengobatan.
Dalam praktik medis, HCC dibagi menjadi tiga stadium utama. Pada stadium awal, penyakit biasanya belum menunjukkan gejala, tetapi peluang bertahan hidup lima tahun bisa mencapai lebih dari 90 persen, dengan tindakan operasi atau transplantasi hati menjadi pilihan utama. Di stadium menengah, sekitar 30 persen pasien baru terdiagnosis, dan penanganan dapat dilakukan dengan embolisasi, ablasi, atau radioterapi. Sementara pada stadium lanjut yang tidak memungkinkan operasi, terapi sistemik seperti imunoterapi menjadi pilihan utama.
Namun, hanya sekitar 20–30 persen pasien yang memenuhi syarat untuk menjalani operasi karena keterbatasan fungsi hati atau letak tumor. Oleh sebab itu, imunoterapi kini menjadi harapan baru bagi penderita unresectable HCC (uHCC) atau kanker hati yang tidak dapat dioperasi. “Imunoterapi memberikan peluang hidup yang lebih baik bagi pasien HCC stadium lanjut,” jelas Jeffry.
Seiring perkembangan riset global, kombinasi imunoterapi dan terapi target kini terbukti mampu meningkatkan angka kesintasan pasien. Beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa satu dari lima pasien yang menjalani terapi kombinasi tersebut dapat bertahan hidup hingga lima tahun setelah pengobatan.
Bukti ilmiah ini turut memperkuat rekomendasi dari berbagai panduan klinis internasional seperti NCCN, EASL, dan PAN-ESMO, yang kini menempatkan kombinasi imunoterapi sebagai terapi lini pertama bagi penderita kanker hati stadium lanjut.



