Fajarnews.co, PT Pertamina Patra Niaga memberikan penjelasan terkait beredarnya informasi di media sosial mengenai harga keekonomian Pertalite yang disebut mencapai Rp18.040 per liter atau lebih tinggi dibanding harga jual Pertamax yang saat ini berada di angka Rp16.250 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, membenarkan angka tersebut merupakan harga keekonomian Pertalite sebelum mendapatkan subsidi dari pemerintah. Karena memperoleh dukungan subsidi, masyarakat hanya membayar Pertalite sebesar Rp10.000 per liter di SPBU.
“Betul, ada unsur subsidinya makanya hanya dijual Rp10.000 per liter,” ujar Roberth.
Ia menjelaskan penetapan subsidi bahan bakar merupakan kebijakan pemerintah yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung aktivitas ekonomi, terutama bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah. Dalam hal ini, Pertamina bertugas menyalurkan BBM sesuai penugasan yang diberikan pemerintah.
Menurutnya, selisih antara harga keekonomian dan harga jual Pertalite yang mencapai sekitar Rp8.000 per liter merupakan beban subsidi yang ditanggung negara agar harga bahan bakar tetap terjangkau.
“Benar, besaran Rp8.000-an itu adalah beban subsidi yang ditanggung pemerintah,” katanya.
Roberth juga menegaskan bahwa harga Pertamax yang berlaku saat ini belum sepenuhnya mengikuti harga keekonomian. Pemerintah dan Pertamina disebut sempat menahan kenaikan harga Pertamax meski harga minyak dunia mengalami tren peningkatan dalam beberapa waktu terakhir.
Penyesuaian harga Pertamax baru dilakukan pada 10 Juni 2026 menjadi Rp16.250 per liter. Langkah tersebut diambil untuk menjaga keseimbangan antara daya beli masyarakat, kondisi ekonomi nasional, serta keberlanjutan fiskal pemerintah dan badan usaha.
“Harga Pertamax ditahan untuk tidak naik. Per 10 Juni dilakukan penyesuaian harga jual Pertamax dalam rangka mengamankan daya beli dan ekonomi serta menyesuaikan agar beban fiskal pemerintah dan badan usaha tetap kondusif,” ujar Roberth.
Ia menambahkan harga Pertamax saat ini masih berada di bawah harga pasar yang seharusnya. Kenaikan yang dilakukan disebut baru mencerminkan sekitar separuh dari harga keekonomian yang berlaku.
Karena itu, apabila Pertamax dijual sepenuhnya mengikuti formula pasar dan harga keekonomian, nilainya diperkirakan akan lebih tinggi dibandingkan harga keekonomian Pertalite yang ramai diperbincangkan publik.
Pertamina menegaskan bahwa kebijakan harga BBM tidak hanya mempertimbangkan aspek bisnis, tetapi juga memperhatikan kondisi ekonomi masyarakat serta stabilitas nasional melalui peran pemerintah dalam pengaturan harga energi.



